Sekilas Peternakan

Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Roughage and Concentrate with Different Ratio in Performance Production of Sumba Ongole's Bull that is Given Three Feedlot Feeds Kind

Roughage and Concentrate with Different Ratio in Performance Production of Sumba Ongole's Bull that is Given Three Feedlot Feeds Kind
Wasdiantoro, H., R. Priyanto and J. Susilo

The level of feed efficiency has influence to the successes of cattle feedlot business. Feed that is utilized in cattles feedlot consisting of concentrate and roughage. Concentrate and roughage should be given in exact proportion. The purpose of this research was to determine the optimum proportion of roughage and concentrate diets which give the highest performance of Sumba Ongole’s bull during feedlot fattening. The parameters observed consisted of average daily consumption, final wight, average daily gain, feed conversion ratio, the thickness of anal fat, and thorax circular length. The carcass productivity was determined by hot carcass weight and carcass percentage. The results indicated that feeding application on Sumba Ongole's bull with roughage and concentrate in different ratio didnot influence to final weight, average daily gain, thorax circular length and thickness of anal fat; but influence the fhot carcass weight and carcass percentage. Feed that gave with combination of roughage and consentrate what does have to assess effectiveness at the best bases conversion to average's day growth is feed with proportion of roughage is more a lot of (as conduct P3), but resulting lower hot carcass weight and carcass percentage.

keywords : sumba ongole, roughage, concentrate, performance production, feedlot feeding


Karkas Sapi

Karkas domba, babi dan sapi merupakan bagian tubuh yang tertinggal setelah darah, kepala, kaki, kulit, saluran pencernaan, intestine, kantong urin, jantung, trakea, paru-paru, ginjal limpa, hati dan jaringan lemak (yang melekat pada tubuh tersebut) diambil. Rata-rata 55 persen bobot hidup sapi adalah karkas. Karkas itu sendiri sebenarnya terdiri dari urat daging dan jaringan lemak, tulang dan residu yang terdiri dari tendon dan jaringan pegikat lainnya, pembuluh darah besar dan lain-lain (Lawrie, 2003).

Faktor yang menentukan nilai produktifitas karkas meliputi berat karkas, jumlah daging yang dihasilkan, kualitas daging dari karkas yang bersangkutan dan potongan karkas yang dapat dijual. Nilai karkas dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin atau tipe ternak, bobot potong, pakan, dan jumlah lemak intramuskular atau marbling (Soeparno, 2005). Bobot karkas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya bobot potong dimana jeroan juga meningkat dengan laju pertumbuhan yang tetap. Terdapat hubungan yang erat antara bobot karkas dan komponenkomponennya dengan bobot tubuh (Berg dan Butterfield, 1968).

Hasil penelitian Ngadiono (1995), Pada bobot potong 412,50 sapi SO dapat menghasilkan persentase karkas 52,69% dengan bobot karkas panas 214,15 kg; sapi BX pada bobot potong 404,75 kg dapat menghasilkan persentase karkas 54,18% dengan bobot karkas panas 215.07 kg; dan pada sapi ACC pada bobot potong 405,06 kg dapat menghasilkan persentase karkas 53,07% dengan bobot karkas panas 213,25 kg. Hasil penelitian Kurniawan (2005) menyatakan bahwa pada sapi BX yang dipelihara selama dua bulan dengan sistem feedlot dengan rata-rata bobot badan awal 279, 68 kg dengan kisaran bobotnya yaitu dari 221 kg hingga 335 kg dapat memiliki bobot karkas rata-rata 193,78 kg dengan kisaran 160-236 kg. bobot karkas tersebut diperoleh dari sapi dengan bobot potong rata-rata 388,80 kg dengan kisaran 317-463 kg, sehingga diperoleh persentase karkas panas rata-rata 49,86%.

Sumber Artikel (Klik Here) 

Pakan Sapi Potong Ongole

Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi (birahi, konsepsi, kebuntingan) serta laktasi. Bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat (produk bijian dan butiran) serta bahan berserat (jerami atau rumput) merupakan komponen atau penyusun ransum (Blakely dan Bade, 1991).

Hijauan merupakan bahan pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi. Hijauan memiliki kandungan serat kasar lebih dari 18% dalam bahan kering. Serat kasar merupakan komponen utama dari dinding sel hijauan, komponen ini sangat susah untuk dicerna (Field, 2007). Serat adalah struktur karbohidrat pada dinding sel tanaman. Serat terdiri atas bahan yang lebih mudah dicerna (hemi-selulosa) dan fraksi yang sangat sukar dicerna (sellulosa dan lignin). Semua tanaman pakan mengandung serat tetapi daya cerna dan fungsinya sangat bervariasi. Serat juga dibutuhkan oleh ternak untuk membantu memproduksi saliva yang akan digunakan sebagai bahan buffer di dalam rumen (Meal and Livestock Association, 2009).

Bahan pakan berupa hijauan termasuk pakan kasar, yakni bahan pakan yang berserabut kasar tinggi. Hewan memamah biak seperti sapi justru akan mengalami gangguan pencernaan bila kandungan serat kasar di dalam ransum terlalu rendah. Kandungan serat kasar untuk ternak sapi paling sedikit 13% dari bahan kering di dalam ransum. Peranan hijauan yang harus disajikan pada ternak sapi tidak bisa digantikan seluruhnya dengan pakan penguat yang kandungan serat kasarnya relatif lebih rendah. Sebab, pakan kasar ini berfungsi menjaga alat pencernaan agar bekerja baik, membuat kenyang dan mendorong keluarnya kelenjar pencernaan. Pertambahan bobot badan atau besar hewan akan bertambah lebih cepat daripada kapasitas konsumsinya, maka pemberian hijauan biasanya dikurangi secara bertahap agar konsumsi biji-bijian dapat mencapai minimum 1,5 persen dari bobot badan. Untuk anak sapi, karena peningkatan bobot badannya yang relatif lebih cepat daripada yearling atau feeder umur 2 tahun, pemberian hijauan biasanya tidak perlu dikurangi (Parakkasi, 1999).

Konsentrat atau bahan pakan penguat adalah pakan berkonsentrasi tinggi yang mengandung protein kasar dan energy yang cukup dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, bulgur, hasil ikutan pertanian atau pabrik seperti dedak, bekatul, bungkil kelapa sawit, tetes dan berbagai umbi. Fungsi konsentrat ini adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah. Sehingga sapi yang sedang tumbuh ataupun yang sedang dalam periode penggemukan harus diberikan konsentrat yang 6 cukup, sedangkan sapi yang digemukkan dengan sistem dry lot fattening diberikan justru sebagian besar berupa pakan penguat (Church, 1991). Pakan yang digunakan pada pemeliharaan intensif biasanya konsentrat penuh atau 60% konsentrat dan 40% hijauan (Blakely dan Bade, 1991). Menurut Neumann dan Lusby (1986), rasio pemberian pakan dalam sistem intensif yaitu 95% konsentrat dan 10-15% hijauan makanan ternak. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa sapi dewasa (finish-sedang) dapat mengkonsumsi pakan dalam bahan kering sebesar 1,4% sedangkan untuk sapi yang lebih besar dapat mencapai 3% bobot badan.


Penggemukan Sapi Potong Sumba Ongole

Penggemukan adalah suatu usaha pemeliharaan sapi yang bertujuan untuk mendapatkan produksi daging berdasarkan pada peningkatan bobot badan tinggi melalui pemberian makanan yang berkualitas dan dengan waktu yang sesingkat mungkin. Secara umum penggemukan sapi dapat dilakukan secara dikandangkan (feedlot fattening) dan dipadang rumput (pasture fattening). Pada umumnya industri fattening di Indonesia dilakukan secara feedlot dengan pemberian makanan konsentrat berupa biji-bijian dalam jumlah besar dan ad libitum dengan lama penggemukan antara 90-180 hari (Purwanto, 2000).

Tujuan program penggemukan adalah untuk memperbaiki kualitas karkas dengan jalan mendeposit lemak seperlunya. Bila hewan yang digunakan belum dewasa, maka program tersebut sifatnya membesarkan sambil menggemukkan atau memperbaiki kualitas karkas. Makanan ternak yang dibutuhkan dalam usaha ini relatif sudah mahal, dengan penambahan konsentrat sesuai dengan kebutuhan (Parakkasi, 1999). Sistem pemeliharaan pada sapi potong dapat dilakukan dengan sistem pemeliharaan intensif, semi intensif dan ekstensif. Philips (2001) menyatakan bahwa sistem pemeliharaan intensif merupakan sistem pemeliharaan dimana sapi dipelihara dalam kandang dengan pemberian pakan konsentrat berprotein tinggi dan juga terkadang ditambahkan dengan hijauan.

Sistem pemeliharaan semi intensif merupakan sistem yang memelihara sapi selain dikandangkan, juga digembalakan di padang rumput, sedangkan sistem ekstensif, pemeliharaannya di padang penggembalaan dengan pemberian peneduh untuk istirahat sapi. Parakkasi (1999) menambahkan bahwa sistem intensif biasanya dilakukan pada daerah yang banyak tersedia limbah pertanian sedangkan sistem ekstensif diterapkan pada daerah yang memiliki padang penggembalaan yang luas. 4 Terdapat dua tipe dasar dalam operasi pemberian pakan pada sapi potong, yaitu secara komersial (commercial feeder) dan peternakan rakyat (farmer feeder). Dua tipe tersebut secara umum didasarkan pada tipe kepemilikan dan ukuran dari penggemukan sapi. Feedlot komersial biasa didefinisikan sebagai peternakan dengan kapasitas lebih dari 1000 ekor dan peternakan rakyat kurang dari 1000 ekor dalam satu waktu produksi. Sistem operasi peternakan rakyat biasanya dijalankan dan dimiliki secara individu atau keluarga, sedangkan peternakan komersial dapat dimiliki secara individu, rekanan, atau koorporasi.

Sistem peternakan komersial juga terdapat sistem custom cattle feeding atau custom feedlot, yaitu salah satu pihak memiliki ternaknya dan di pihak lain menjalankan operasionalnya (Field, 2007). Ternak sapi/kerbau pedaging dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia dengan berbagai macam pemeliharaan, tergantung pada kondisi setempat. Di Indonesia, ruminan pedaging besar masih mempunyai beberapa fungsi selain untuk produksi daging. Bila dibandingkan dengan negara maju (bidang peternakan), perbedaan utamanya terletak pada penggunaannya sebagai sumber tenaga kerja, produksi susu (pada kerbau), dan pengertian tabungan. Sistem pemeliharaan di Indonesia sebagian besar dilakukan oleh seorang peternak (bersama keluarga) dengan memelihara satu, dua ekor atau mungkin lebih banyak dengan cara pemeliharaannya masing-masing; biaya pemeliharaannya mungkin tidak pernah dihitung. Selama pemeliharaan hewan tersebut bertambah besar, bertambah berat atau kondisinya bertambah baik, berkembangbiak atau mungkin tenaga kerjanya sempat dimanfaatkan sebelum suatu ketika dapat dijual. Keuntungannya banyak dipengaruhi oleh cara seseorang menilainya (Parakkasi, 1999).


Tinjuan Pustaka Sapi Sumba Ongole

Pemerintah Indonesia mengimpor sapi dari berbagai jenis keturunan sapi Zebu pada akhir abad ke 19 dari India. Tujuan impor tersebut untuk mendatangkan sapi yang cocok hidup di Indonesia dan memiliki fungsi ganda yaitu sebagai ternak kerja dan penghasil daging. Sapi Ongole (Nellore) merupakan ternak yang terpilih dan dianggap memenuhi syarat tersebut. Sekitar tahun 1914 semua sapi jenis Ongole murni yang ada di Indonesia dikembangkan dan digembalakan di satu tempat yaitu pulau Sumba. Secara berangsur-angsur pengembangan ternak tersebut diperluas dengan cara menyebarkan pejantan Ongole ke pulau-pulau lain yang ada di Indonesia dengan tujuan untuk kawin silang. Pada tahun 1950-an terdapat sekitar 1000 hingga 1200 ekor pejantan Ongole dikeluarkan dari pulau Sumba tiap tahunnya (Payne and Hodges, 1997).

Karakteristik fisik sapi Sumba Ongole secara umum tidak berbeda dengan karakteristik tubuh sapi Ongole yang ada di India. Sapi Ongole merupakan salah satu ternak yang paling besar di India yang berbadan panjang dan berkaki panjang dengan leher relatif pendek. Warna kulit yang normal adalah putih tapi pada ternak jantan dewasa biasanya berwarna abu-abu pada kepala, bagian leher dan punggung. Terkadang warna merah atau merah berlapis putih juga terlihat pada kulitnya. Warna kulit juga ada yang terdapat titik-titik berwarna dan untuk ketebalan kulitnya berukuran medium. Kepala panjang, telinga sedang dengan sedikit jatuh (layu). Tanduknya pendek. Punuk tumbuh lurus dan berkembang baik pada ternak jantan. Gelambir besar dan gemuk serta memiliki lipatan hingga meluas ke pusar (Payne and Hodges, 1997). Terdapat sekitar 30 bangsa sapi dari India seperti Nellore (Ongole), Guzerat, Gir, Red Sindhi dan masih banyak lagi yang kesemuanya termasuk dalam golongan sapi Zebu.

Sapi-sapi dari India tersebut termasuk dalam spesies Bos indicus (sapi-sapi yang memiliki punuk) dalam klasifikasi zoologisnya (Blakely dan Bade, 1991). Hasil penelitian Ngadiono (1995) sapi Sumba Ongole yang dipelihara dengan intensif dapat memiliki rataan pertambahan bobot badan harian sebesar 0,85+0,01 kg/ekor/hari. Kemampuan mengkonsumsi bahan kering pakan sebesar 8,49 kg/ekor/hari atau konsumsi bahan keringnya sebesar 2,38% dari bobot badan Selanjutnya dinyatakan pula bahwa dengan konsumsi bahan kering tersebut, sapi Sumba Ongole dapat mengkonversi pakan sebesar 10,60 kg bahan kering pakan/kg pertambahan bobot badan. Nilai rataan pertambahan bobot badan tersebut masih lebih rendah dari hasil penelitian Nugroho (2008) yang juga menggunakan sapi Sumba Ongole dengan sistem pemeliharaan secara intensif yaitu, sebesar 1,29 kg/ekor/hari.


Medetomidin

Medetomidin merupakan agonis alpha 2-adrenoseptor dengan rumus ((4- [2,3]dimethylphenylethyl)-1H-imidazole). Molekul medetomidin memiliki dua stereoisomer, yaitu D-stereoisomer dan L-stereoisomer. D-stereoisomer adalah komponen aktif yang dapat mempengaruhi sistem saraf dan kardiovaskuler, sedangkan L-stereoisomer tidak aktif (Schmeling et al. 1991). Medetomidin digunakan sebagai obat penenang dengan efek yang ditimbulkan berupa analgesik, relaksasi otot, dan efek anxiolytic (Rioja 2013). Pemberian medetomidin pada hewan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada sistem kardiovaskuler, sistem pulmonari, gastrointestinal, dan sistem endokrin. Pemberian medetomidin pada hewan dapat mengakibatkan terjadinya muntah dan hewan mengalami hipotermia (Cullen 1996).

Efek sedatif medetomidin ini dimediasi oleh adanya pusat alpha 2- adrenoseptor yang banyak terdapat di lokus coeruleus otak (Correa-Sales et al. 1992). Diketahui dari berbagai studi tentang autoradiografik menunjukkan bahwa pada lokus coeruleus ditemukan neurons noradrenergik dalam jumlah besar. Lokus coeruleus banyak dilewati oleh jalur saraf yang mentransmisikan impuls ke otak depan dan sistem limbik. Stimulasi terhadap alpha 2-adrenoseptor di lokus coeruleus menyebabkan hiperpolarisasi neuron sehingga terjadi hambatan transmisi impuls dan menghasilkan efek sedasi (Cullen 1996). Agonis alpha 2-adrenoseptor (medetomidin) menghasilkan efek analgesia dengan cara menstimulasi reseptor di berbagai lokasi jalur rasa sakit pada spinal dan tingkat supraspinal (Pertovaara et al. 1991; Akbar et al. 2014).

Berbagai studi tentang radioligand menunjukkan adanya pengikatan alpha 2 dengan konsentrasi tinggi pada tanduk dorsal dari spinal cord (terdapat sinapsis serabut nosiseptif) dan batang otak, di mana modulasi dari sinyal nosiseptif akan dimulai (Cullen 1996). Agonis alpha 2-adrenoseptor dapat mempengaruhi fungsi kardiovaskuler dengan cara menstimulasi reseptor pusat dan perifer. Stimulasi terhadap reseptor ditemukan pada bagian yang berbeda di otak, termasuk nukleus dari traktus solitarius yang menjadi pusat utama dalam kontrol otonom (Hayashi dan Maze 1993), peningkatan aktivitas nervus vagus dan penurunan aktivitas saraf simpatik yang menghasilkan efek bradikardia dan hipotensi (Cullen 1996). Hipotermia dapat terjadi akibat tertekannya reseptor noradrenergik di hipotalamus oleh agonis alpha 2-adrenoseptor. Diketahui dari hasil penelitian, pembiusan anjing dengan medetomidin mengakibatkan terjadinya sedikit penurunan suhu rektal (Cullen dan Reynoldson 1993; Pettifer dan Dyson 1993).



Anestesia

Anestesi dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kondisi sedasi, analgesi, relaksasi, dan penekanan refleks yang optimal dan adekuat untuk dilakukan tindakan dan prosedur diagnostik atau pembedahan tanpa menimbulkan gangguan hemodinamik, respiratorik, dan metabolik yang dapat mengancam (Adams 2001; Miller 2010). Pada hewan, anestesi umumnya digunakan untuk alasan menghilangkan rasa dan sensasi terhadap suatu rangsangan yang merugikan (rasa sakit), melakukan pengendalian hewan (restraint), membantu melakukan diagnosis atau proses pembedahan, keperluan penelitian biomedis, mencegah kekejangan otot, dan untuk melakukan euthanasia (Adams 2001). Stadium anestesi dibagi menjadi empat, yaitu stadium induksi, stadium eksitasi, stadium pembedahan, dan stadium paralisis medular.

Stadium induksi dimulai dari pemberian agen anestesi sampai menimbulkan hilangnya kesadaran, indra penciuman dan rasa nyeri hilang, ada kemungkinan mengalami mimpi serta halusinasi pendengaran dan penglihatan. Pada stadium eksitasi atau delirium terjadi kehilangan kesadaran akibat penekanan korteks serebri, eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak, pernapasan tidak teratur, inkontinensia urin, muntah, midriasis, hipertensi, dan takikardia. Stadium pembedahan merupakan stadium yang menandakan dimulainya prosedur operasi. Stadium paralisis medular merupakan tahap toksik dari anestesi yang ditandai dengan paralisis otot dada, pulsus cepat, dan pupil dilatasi (Boulton dan Colin 1994; Munaf 2008).


Kucing Lokal

Kucing merupakan hewan peliharaan yang populer di Indonesia, selain hewan lainnya, seperti anjing, burung, dan hewan eksotik (Purwantoro 2010). Kucing banyak dijadikan sebagai hewan peliharaan untuk pemenuhan kesenangan ataupun hobi pemiliknya. Hal ini dikarenakan kucing memiliki sifat yang manja, bentuk tubuh yang menggemaskan, perilaku yang lucu ketika bercanda, dan memiliki rambut yang halus (Suwed dan Rodame 2011)

Kucing merupakan hewan predator yang berukuran kecil dan termasuk dalam Ordo Carnivora (pemakan daging), termasuk mamalia crepuscular yang telah berasosiasi dengan manusia. Kucing peliharaan hidup dalam simbiosis mutualisme dengan manusia. Dalam hubungannya dengan manusia, kucing menggunakan variasi vokalisasi dan tipe bahasa tubuh untuk komunikasi, meliputi meowing, purring, hissing, growling, squeaking, chirping, clicking, dan grunting (Rahman 2008).

Kucing lokal (Felis domestica) merupakan salah satu dari beberapa hewan kesayangan yang sering dijadikan peliharaan. Hal tersebut dikarenakan kucing memiliki daya adaptasi yang baik, perilaku yang lucu ketika bercanda, sifat manja, rambut yang halus, dan karakter yang unik bila dibandingkan dengan hewan kesayangan lain. Klasifikasi kucing lokal menurut Fowler (1993) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
 Kelas : Mamalia
Ordo : Carnivora
Subordo : Conoidea
Famili : Felidae
Subfamili : Felinae
Genus : Felis
Spesies : Felis domestica


Effectivity of Anesthetic Combination of Medetomidine with Ketamine in Indonesian Local Cats (Felis domestica)

DEDI NUR ARIPIN. Effectivity of Anesthetic Combination of Medetomidine with Ketamine in Indonesian Local Cats (Felis domestica).
Supervised by WASMEN MANALU and ANDRIYANTO.

This study aimed to determine the effectivity of anesthetics combination of medetomidine with ketamine in local cat (Felis domestica). Twenty adult cats with body weights ranged 3-5 kg were divided into five groups consisted of five cats each and each group was given different treatments. The first group was control group that did not receive anesthesia. The second group consisted of cats injected with ketamine at a dose of 20 mg/kg BW (treatment 1). The third group consisted of cats injected with medetomidine at a dose of 0.15 mg/kg BW (treatment 2). The fourth group consisted of cats injected with medetomidine at a dose of 0.1 mg/kg BW and shortly thereafter injected with ketamine at a dose of 10 mg/kg (treatment 3). The anestheticum was administered by intramuscular (IM) injection. The observed parameters were onset, duration, respiratory rate, heart rate, and rectal temperature. Results of this study showed that the anesthetic combination of medetomidine-ketamine had a better effectivity when compared to ketamine and medetomidine. Anesthetic combination of medetomidine-ketamine has a faster onset as compared to medetomidine (about 3 minutes) and ketamine (about 8 minutes). Cats injected with anesthetic combination of medetomidine-ketamine had a longer duration as compared to medetomidine (about 78 minutes) and ketamine (about 172 minutes). Anesthetic combination of medetomidine-ketamine produced a minimal depression of the physiological conditions such as the functions of breathing, heart function, and body temperature. Conclusion in this study is the combination of medetomidine-ketamin can be effectively used as an alternative anesthesia in local cats.

Keywords: anesthesia, cats, combination, ketamine, medetomidine

Habitat dan Prilaku Badak Sumatera

Habitat badak Sumatera adalah di hutan sedangkan badak Afrika dan badak India menyukai hidup di savana. Badak Afrika dan badak India mampu hidup hingga di hutan-hutan pegunungan, walau lebih sering dijumpai di dekat daerah berair (Vaughan 1978). Badak Sumatera hidup secara soliter (Durrel 1984), kecuali pada saat induk badak mengasuh anaknya serta pada saat musim kawin, badak jantan akan mendatangi badak betina (Van Strien 1974).

Badak termasuk hewan nokturnal yaitu aktivitasnya dilakukan pada sore, malam, dan pagi hari. Menurut Siswandi (2005), ada empat aktivitas utama badak Sumatera yaitu berkubang, makan, berjalan, dan tidur. Berkubang di lumpur merupakan aktivitas umum semua badak. Aktivitas berkubang pada umumnya dilakukan satu sampai dua kali sehari, dengan letak kubangan di daerah yang relatif sejuk dan tersembunyi. Aktivitas berkubang merupakan aktivitas penting pada badak Sumatera (Van Strien 1974). Aktivitas ini berguna untuk menjaga kelembaban kulit sehingga kulit tidak pecah-pecah dan terlindungi dari peradangan serta gigitan serangga hutan (Foead 2005). Menurut Van Strien (1985), dalam membuat kubangan, badak biasanya berguling-guling serta menggunakan badan dan kakinya untuk memperluas kubangan. Kubangan biasanya dibuat di tempat yang berdrainase buruk dan tanahnya sering basah untuk beberapa waktu, serta jauh dari gangguan.

Seekor badak Sumatera akan berpindah dan membuat kubangan baru dalam waktu tertentu, karena beberapa faktor antara lain: badak mempunyai kebiasaan membuang urin sambil berkubang, ada gangguan pada badak yang sedang berkubang, kondisi kubangan sudah tidak cocok seperti air berkurang atau tercemar (Ramadhani 2002). Aktivitas lain yang dilakukan badak adalah menggosokkan bagian kepala atau wajah ke pohon dan biasanya dilakukan berulang. Aktivitas ini biasanya dilakukan saat makan di hutan, jalan dan ketika bangun dari berkubang. Aktivitas ini merupakan salah satu cara lain untuk mengusir ektoparasit di tubuhnya (Borner 1979). Badak menyukai beberapa macam makanan meliputi daun, ranting, buah-buahan dan bambu (Durrel 1984). Badak makan dengan cara browsing sambil berjalan melewati lintasan dan membuka jalan di hutan yang merupakan bagian dari perilaku makan di hutan. Badak biasanya makan pada malam, pagi dan sore hari tetapi waktu makan yang benar-benar dilakukan adalah waktu malam dan pagi hari (Van Strien 1985).

Badak mempunyai beberapa cara dalam memperoleh pakannya yaitu badak memangkas tumbuhan pakan terlebih dahulu sampai tingginya sesuai dengan jangkauannya sehingga badak dapat dengan mudah untuk memakannya. Untuk jenis tumbuhan merambat, badak menarik tumbuhan tersebut dengan bantuan gigi atau melilitkan pada leher dan culanya (Van Strien 1974). Badak akan merobohkan tumbuhan tersebut terlebih dahulu, apabila tumbuhan yang disukainya berupa pohon tinggi sebelum bagian yang disukainya berada dalam jangkauan.

Badak akan menubrukkan badannya ke batang hingga pohon patah lalu memakan bagian yang disukainya dan badak juga sering membengkokkan pohon-pohon kecil dengan kaki depan ditunjangkan pada pohon sambil berdiri lalu mulutnya menjangkau daun-daun dan dahan muda (Van Strien 1974). Salt licking atau mengasin adalah aktivitas menjilat objek yang dilakukan untuk mendapatkan mineral. Mineral diperoleh dengan menjilat-jilat tanah yang diduga mengandung mineral yang dibutuhkan oleh badak. Tambahan mineral seperti Sodium (Na), Potassium (K) dan mineral lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh badak untuk keseimbangan ion di dalam tubuhnya (Van Strien 1974). Perilaku mengasin (salt licking) merupakan salah satu aktivitas yang tidak sering dilakukan oleh badak.

Menurut Siswandi (2005), badak melakukan aktivitas ini paling banyak sekitar 10 kali perhari dengan durasi selama sekitar 30 menit atau bahkan badak tidak melakukan aktivitas ini sama sekali seharian. Sama halnya dengan satwa liar lainnya, badak Sumatera juga mempunyai tanda batas wilayah kekuasaanya (teritorial). Untuk memberi tanda batas wilayah kekuasaan tersebut, badak Sumatera mencakar-cakar kotoran dengan kaki belakang setelah defekasi dan kepala menyibak-nyibak ke semak belukar dan culanya memilin pohon-pohon kecil, serta saat urinasi badak menyemprotkan urin sepanjang perjalanan (Siswandi 2005). Dalam panca indera, badak Sumatera mempunyai keterbatasan dalam penglihatan tetapi penciuman dan pendengaran sangat baik (Van Strien 1974). Untuk pertahanan tubuhnya, badak Sumatera sering membenturkan kepala dan menubrukkan tubuhnya ke pengganggu. Kepala mengarah dorsoanterior sejajar dengan pengganggu kemudian badak langsung membenturkan kepala ke arah pengganggu (Kurniawanto 2007).


Sumber Artikel (Klik Disini)

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

Klasifikasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) termasuk hewan herbivora dengan klasifikasi sebagai berikut (IRF 2002) :
Kelas : Mamalia
Sub Kelas : Theria
Ordo : Perissodactyla
Sub Ordo : Ceratomorpha
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Dicerorhinus
Spesies : Dicerorhinus sumatrensis

Menurut Van Strien (1974), Badak diklasifikasikan menjadi lima spesies yaitu tiga spesies terdistribusi di Asia dan dua spesies terdistribusi di Afrika. Badak yang terdistribusi di Asia antara lain Dicerorhinus sumatrensis (badak Sumatera), Rhinoceros sondaicus (badak Jawa), Rhinoceros unicornis (badak India) sedangkan badak yang terdistribusi di Afrika antara lain Diceros bicornis (badak hitam) dan Ceratotherium simum (badak putih).

Morfologi
Badak Sumatera merupakan spesies badak terkecil dan paling primitif dari Rhinocerotidae (Van Strien 1974). Menurut Foead (2005), berat badak Sumatera sering tidak mencapai 1.000 kg, sementara badak Jawa dapat mencapai 1.500-2.000 kg. Badak Sumatera hanya memiliki dua lipatan kulit utama yaitu lipatan pertama melingkari bagian dorsal paha dan lipatan kedua di bagian abdomen sebelah lateral. Lipatan kulit tampak nyata dekat kaki belakang dan bagian kaki depan (Van Strien 1974).

Badak Sumatera memiliki ukuran tubuh yang gemuk dan agak bulat, kulitnya licin, relatif lebih lembut dan tipis dibandingkan badak Asia lainnya serta terdapat garis-garis berbentuk polygonal pada permukaan kulitnya. Badak Sumatera merupakan badak yang paling berambut dari semua spesies badak. Sewaktu bayi, tubuhnya ditutupi rambut tebal, kemudian akan berkurang dan menjadi lebih pendek dan kaku saat dewasa. Rambut banyak ditemukan di dalam liang telinga, garis tengah punggung, bagian ventral flank dan bagian luar paha sedangkan di daerah muka dan bagian kulit yang melipat tidak ditemukan rambut (Van Strien 1974).

Keistimewaan lainnya pada badak Sumatera yaitu memiliki kepala yang besar dengan dua buah cula yaitu cula cranialis berada di dorsal os nasale dan cula caudalis berada di dorsal os frontale. Cula cranialis memiliki panjang 10-31 inci (25-79 cm) sedangkan cula caudalis memiliki panjang hanya 3 inci (10 cm) (IRF 2002). Menurut Van Strien (1974), cula caudalis tidak pernah lebih besar dari cula cranialis sehingga cula caudalis sering tidak terlihat jelas dan tampak hanya mempunyai satu cula. Badak betina memiliki cula lebih pendek dan lebih kasar dibandingkan badak jantan (Van Strien 1985). Cula berkembang dari dasar epidermis yang dibentuk dari serat berkeratinisasi yang kompak, kokoh dan struktur yang padat dengan diameter sekitar 0.5 mm yang terus tumbuh dan tidak mudah patah serta tidak berhubungan langsung dengan skelet kepala (Hildebrand dan Goslow 2001).

Menurut Hieronymus dan Ridgely (2006), cula terletak pada dasar epidermis yaitu bagian lapisan kulit paling luar. Pada pengamatan dengan menggunakan CT-scan menunjukkan bahwa cula hanya berupa matriks keratin tanpa adanya tulang dan bagian pusat dari cula tersebut diperkuat dengan adanya kombinasi mineral (kalsium) dan melanin. Adanya lamina-lamina gelap pada bagian pusat menunjukkan konsentrasi mineral dan melanin tersebut relatif lebih besar dibandingkan daerah sekitarnya. Perubahan konsentrasi mineral dan melanin akibat adanya deposisi dari campuran tersebut (Gambar 4D). Menurut Van Strien (1974), gigi badak Sumatera dewasa mempunyai 1 incisivum, 3 premolar dan 3 molar pada rahang atas sedangkan pada rahang bawah terdapat 3 premolar dan 3 molar tetapi tidak terdapat incisivum. Incisivum di rahang atas mempunyai ukuran lebih besar dibandingkan rahang bawah dengan mahkota yang datar. Premolar dan molar mempunyai mahkota yang agak lengkung dan sekitarnya dilapisi email. Pergantian gigi susu badak terjadi dalam beberapa tahap yaitu diawali dengan munculnya gigi molar permanen pertama. Pada saat gigi molar permanen kedua muncul kemudian diikuti oleh pergantian gigi premolar kedua, saat gigi molar kedua mulai digunakan maka diikuti pergantian gigi premolar ketiga lalu saat gigi molar ketiga mulai terlihat maka seluruh gigi susu telah diganti (Van Strien 1974).


The Skull Anatomy of Sumatran Rhino (Dicerorhinus sumatrensis)

CUT DESNA APTRIANA. The Skull Anatomy of Sumatran Rhino (Dicerorhinus sumatrensis). Under The Direction of NURHIDAYAT and CHAIRUN NISA‟.

This study was conducted with aim to describe the gross anatomical structure of the skull of a 26 years old female Sumatran rhino. The present study noted some characteristics in the skull of Sumatran rhino. The sutures among the bones were unclear. The surfaces of several bones including the nasal and the frontale bones were rough. These rough surfaces might provide as a base for the horn. The area of the eye orbit was relatively small and the zygomatic arch was less developed, formed only by the zygomatic process of temporal bone and the temporal process of zygomatic bone, respectively. The occipital bone was wide while in the mandible the masseteric fossa was deep and rough and the area of mandibular angle was thick. The dental formula was I1/0 C0/0 PM3/3 M3/2 without the incisive teeth on the lower jaw. CT-scanned images revealed a relative small brain cavity and well developed nasal cavity. The present results suggested that the Sumatran rhino might have a small brain, less developed eye but well developed olfactory function. The data were discussed and compared with those of other animals such as horse and pigs that have a close phylogenetic and anatomic relationship with the rhino.

Keywords: The morphology of skull, horn of the Sumatran rhinoceros, CT-scan.


EM4 (Effective Microorganisms 4)

EM 4 (Effective Microorganisms 4) merupakan media kultur berbentuk cairan yang dapat disimpan lama. EM 4 mengandung 90% bakteri Lactobacillus sp (bakteri penghasil asam laktat) pelarut fosfat, bakteri fotosintetik, Streptomyces sp, jamur pengurai selulosa dan ragi. Bakteri Lactobacillus sp bermanfaat dalam menurunkan kolesterol darah (Klave dan Meer, 1993). EM 4 merupakan suatu tambahan untuk mengoptimalkan pemanfaatan zat-zat makanan karena bakteri yang terdapat dalam EM 4 dapat mencerna selulose, pati, gula, protein, lemak (Surung, 2008). Bakteri asam laktat yang terkandung dalam EM 4 merupakan golongan mikroorganisme yang menguntungkan karena mempunyai sifat yang tidak toksik bagi inang dan mampu menghasilkan senyawa yang dapat membunuh mikroorganisme patogen.

Bakteri asam laktat juga memproduksi metabolik sekunder, seperti asam hidroksi peroksida, diasetil, ammonia, asam lemak, dan bakteriosin yang dapat menghambat bagi bakteri patogen (Lopez, 2000). Menurut Soeharsono (2002) pemberian EM4 dapat meningkatkan konsumsi pakan pada ternak. Suatu ramuan obat (jamu) untuk ternak yang dicampur dengan EM- 11 4 telah terbukti meningkatkan daya tahan tubuh ternak unggas, produktivitas, efisiensi pakan, kualitas karkas daging, aroma daging, dan kualitas telur (Zainuddin, 2009). Haruna dan Sumang (2008) juga mendapatkan bahwa jamu yang dicampur dengan MBio/EM-4 akan meningkatkan efisiensi pakan dan air minum.


Molases

Molases merupakan hasil sampingan pada industri pengolahan gula dengan wujud bentuk cair. Molases adalah limbah utama industri pemurnian gula. Molases merupakan sumber energi yang esensial dengan kandungan gula didalamnya. Oleh karena itu, molasses telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak dengan kandungan nutrisi atau zat gizi yang cukup baik. Kadar air dalam cairan molasses yaitu sebanyak 15-25% dan cairan tersebut berwarna hitam serta berupa sirup manis.

Molases yang diberikan pada level yang tinggi dapat berfungsi sebagai pencahar, akibat kandungan mineralnya cukup tinggi. Molases dapat diberikan pada ternak ayam, babi, sapi dan kuda. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian molases pada ransum ternak 10 ruminansia adalah sebanyak 5% yang terdiri dari jagung, dedak padi, tepung ikan, rumput gajah secara nyata dapat meningkatkan bobot badan, akan tetapi penggunaan lebih dari 5% akan berdampak negatif, yaitu berkurangnya peningkatan bobot badan karena energi pakan yang dihasilkan terlalu tinggi. Berdasarkan hal tersebut, molases sering dimasukkan ke dalam ransum sebanyak 2-5% untuk meningkatkan palatabilitas pakan.

Molases dapat berfungsi sebagai pellet binder yang dalam pelaksanaanya dapat meningkatkan kualitas pelet. Penggunaan molases pada industri pakan dengan level diatas 5-10%, molases dapat menyebabkan masalah, karena kekentalan dan terjadi pembentukan gumpalan pada mixer. Molases juga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk sejumlah industri fermentasi. Molasses memiliki kandungan protein kasar 3,1%; serat kasar 0,6%; BETN 83,5%; lemak kasar 0,9%; dan abu 11,9%. Molasses dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Cane-molasses, merupakan molasses yang memiliki kandungan 25-40% sukrosa dan 12-25% gula pereduksi dengan total kadar gula 50-60% atau lebih. Kadar protein kasar sekitar 3% dan kadar abu sekitar 8-10%, yang sebagian besar terbentuk dari K, Ca, Cl, dan garam sulfat. Beet-molasses merupakan pakan pencahar yang normalnya diberikan pada ternak dalam jumlah kecil (Cheeke, 1999).


Penggunaan Temulawak di Pakan

Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang termasuk salah satu jenis jahe-jahean. Bagian yang berkhasiat dari temulawak adalah rimpangnya yang mengandung berbagai komponen kimia di antaranya zat kuning kurkumin, protein, pati dan minyak atsiri. Fraksi pati merupakan komponen terbesar dalam rimpang temulawak. Pati berbentuk serbuk berwarna putih kekuningan karena mengandung sedikit 9 kurkuminoid serta memiliki sifat mudah dicerna sehingga dapat digunakan sebagai bahan campuran makanan bayi maupun untuk pengental sirup. Menurut Sembiring et al. (2006) kurkuminoid merupakan komponen yang dapat memberi warna kuning dan zat ini digunakan sebagai zat warna dalam industri pangan dan kosmetik. Fraksi kurkuminoid yang terdapat pada temulawak terdiri dari dua komponen, yaitu kurkumin dan desmetoksikurkumin. Kurkuminoid berkhasiat menetralkan racun, menghilangkan rasa nyeri sendi, meningkatkan sekresi empedu, menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah, antibakteri serta dapat mencegah terjadinya pelemakan dalam sel-sel hati dan sebagai antioksidan penangkal senyawasenyawa radikal yang berbahaya.

Menurut Liang et al. (1985) temulawak mengandung kurkumin sebanyak 3,16% dan minyak atsiri sebanyak 15,5% untuk setiap 100 g bahan kering. Menurut Sunaryo et al. (1985) pemberian kurkuminoid dapat menurunkan peningkatan kolesterol total serum yang disebabkan oleh pemberian kolesterol sebelumnya dan dapat meningkatkan jumlah presentase HDL dalam serum tikus putih. Temulawak merupakan kolagoga atau dapat diartikan akan memperbanyak jumlah empedu yang dilepas ke duodenum. Secara faali akan terjadi efek respon untuk mengurangi produksi kolesterol yang merupakan bahan baku empedu. Hal ini karena mekanisme pembentukan kolesterol tidak melalui respon kadar kolesterol di dalam darah, tetapi melalui refleksi kebutuhan empedu di duodenum. Produksi empedu diperoleh dari kolesterol darah yang tersedia, maka kadar kolesterol menjadi rendah karena dikonsumsi untuk pembentukan empedu (Djamhuri, 1981).


Penggunaan Kayu Manis di Pakan Ternak

Kayu manis (Cinnamomum burmani) merupakan rempah-rempah dalam bentuk kulit kayu yang biasa dimanfaatkan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Sifat kimia dari kayu manis ialah hangat, pedas, wangi, dan sedikit manis. Sementara itu, kandungan kimianya antara lain minyak atsiri, safrole, sinamadehide, eugenol, tanin, damar, kalsium oksanat, dan zat penyamak (Fauzan, 2008). Kayu manis memang memiliki efek farmakologis yang dibutuhkan dalam obat-obatan. Kayu manis ini dapat meningkatkan nafsu makan pada ternak. Tumbuhan yang kulit batang, daun, dan akarnya bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Kandungan kimia ada terdapat dalam kayu manis adalah minyak atsiri, eugenol, safrole, sinamaldehide, tanin, kalsium oksalat, damar, dan zat penyamak. Sifat kimia dari kayu manis adalah pedas, sedikit manis, hangat, dan wangi.

Manfaat tanin dapat mereduksi stres oksidatif makrofag, dan menghambat pembentukan aterosklerosis. Tanin di dalam tubuh akan berikatan dengan protein tubuh dan akan melapisi dinding usus, sehingga penyerapan lemak dihambat. Selain itu juga, tanin melindungi usus terhadap asam lemak tak jenuh. Proses perlindungan yang dilakukan tanin berupa pemadatan lapisan lendir saluran pencernaan sehingga menghambat penyerapan zat-zat makanan (termasuk lemak dan kolesterol) oleh saluran pencernaan. Selain itu, tanin diketahui memacu metabolisme glukosa dan lemak, sehingga timbunan kedua sumber kalori ini dalam darah dapat dihindari atau dengan kata lain kolesterol dan gula darah turun (Kurnia et al., 2010)


Penggunaan Daun Sirih di Pakan Ternak

Hijau Sirih (Piper betle L.) merupakan sejenis tumbuhan merambat yang bersandar pada batang pohon lain. Sirih digunakan sebagai tanaman obat (fitofarmaka). Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Buahnya berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan. Daun sirih hijau dengan ciri daun berwarna hijau dan permukaan daun licin. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang, seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Daun sirih mengandung zat antiseptik pada seluruh bagiannya.

Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung minyak atsiri 1-4,2%, air protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A, B, C yodium, gula dan pati. Dari berbagai kandungan tersebut, dalam minyak atsiri terdapat fenol alam yang mempunyai daya antiseptik yang sangat kuat (bakterisid dan fungisid) tetapi tidak sporosid. (Soemiati dan Elya, 2008). 8 Daun sirih segar banyak mengandung asam amino esensial kecuali lisin, histidin dan arginin. Terdapat sejumlah besar asparagin, sedangkan glisin dalam bentuk gabungan, kemudian prolin dan orinitin. Cairan daun bersifat asam, mengandung asam malat dan asam oksalat, enzim diastase dan katalase (Darwis, 1991). Selain itu daun sirih mengandung saponin, flavonoida dan polifenol (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).


Penggunaan Bawang Putih di Pakan Ternak

Bawang putih atau garlic berasal dari bahasa Inggris kuno “gar” yang berarti tombak atau ujung tombak, dan “lic” yang berarti umbi atau bakung. Terkadang garlic juga dinamakan dengan Allium sativum dalam bahasa latin yang berarti tumbuh (Atmadja, 2002). Bawang putih merupakan tanaman yang berbentuk umbi-umbian yang berwarna putih yang biasa digunakan sebagai bumbu masakan, serta sering digunakan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif. Para ilmuwan dari Amerika dan Rusia menemukan bahwa bawang putih mengandung minyak atsiri yang bersifat antibakteri dan antiseptik.

Kandungan allisin dan alliin merupakan antioksidan yang manjur untuk mengurangi rasa sakit pada tubuh dan membuat kolesterol tetap terjaga normal. Umbi bawang putih mengandung kalsium yang bersifat menenangkan sehingga cocok sebagai pencegah hipertensi, saltivine dapat mempercepat pertumbuhan sel dan jaringan serta 7 merangsang susunan saraf, diallyl disulfide sebagai obat cacing. Bawang putih adalah tanaman yang hampir selalu tumbuh sepanjang tahun. Tanaman ini merupakan bagian dari famili bawang yang paling berbau tajam dan pedas (Hermes, 2001). Bawang putih segar mempunyai senyawa aktif yaitu γ-glutamilsistein, aliin, dan alinase. Bawang putih yang mengalami pengolahan, akan melepaskan enzim alinase sehingga mengubah sistein sulfoksida menjadi bentuk tiosulfinat.

Alisin mengandung tiosulfinat sekitar 70% yang dibentuk melalui reaksi alinase (Nagpurkar et al., 2000). Menurut Syamsiah dan Tajudin (2003) bawang putih dapat menjadi obat karena adanya kombinasi antara alisin dan skordinin. Skordinin merupakan senyawa kompleks tiodlisida yang berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa ini dapat memacu pertumbuhan tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh, menekan kolesterol, dan mencegah kerusakan sel akibat proses penuaan. Menurut Nagpurkar et al. (2000), manfaat bawang putih antara lain dapat menurunkan kolesterol dalam darah, menurunkan tekanan darah, berperan dalam aktivitas antitrombotik, mencegah kanker, memberi dampak antioksidan, serta sebagai antimikrobial.

Penggunaan Kencur di Pakan Ternak

Kencur (Kaempferia galanga) tergolong pada familia Zingiberaceae. Kencur dikelompokan sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai daging buah paling lunak dan tidak berserat. Kencur merupakan terna kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Daging buah kencur berwarna putih dan kulit luarnya berwarna coklat. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan. 

Rimpang kencur mengandung pati sebanyak 4,14%, mineral sebayak 13,73%, dan minyak atsiri sebanyak 0,02% berupa sineol, asam metil kanil dan penta dekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid dan gom (Fauzan, 2008). Kencur memiliki kandungan minyak atsiri (borneol, kamfer, sineol, etilalkohol), sehingga dapat dimanfaatkan sebagai peluruh dahak atau pembersih tenggorokan, menghilangkan lendir yang menyumpat hidung, menghangatkan badan, sebagai pelangsing, membantu mengeluarkan gas dari perut, serta baik untuk menangkal radikal bebas sebagai salah satu penyebab penuaan dini (Tampubolon, 1995).

Sumber Artikel  (Klik disini)

Penggunaan Kunyit di Pakan Ternak

Kunyit (Curcuma domestica Val.) termasuk pada familia Zingiberaceae. Kunyit merupakan salah satu tumbuhan yang banyak digunakan masyarakat. Rimpang kunyit terutama digunakan untuk keperluan dapur (bumbu, zat warna makanan), kosmetika maupun dalam pengobatan tradisional. Kunyit merupakan tanaman yang mudah diperbanyak dengan stek rimpang dengan ukuran 20-25 g stek. Bibit rimpang harus cukup tua. Untuk menghasilkan rimpang yang lebih besar diperlukan tempat yang lebih terbuka. Rimpang kunyit berwarna kuning sampai kuning jingga (Tampubolon, 1995). Kandungan minyak atsiri pada kunyit mempunyai manfaat dalam membunuh bakteri (bakterisidal) terhadap bakteri golongan Bacillus cereus, B. subtilis, B. megaterium.

Menurut Purseglove et al. (1981) beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 4,3-6%, zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 0,5-6%, pati sebanyak 40-50% serta beberapa senyawa lainnya seperti resin dan senyawa pahit. Zat aktif dari kunyit adalah kurkumin. Kurkumin berupa serbuk kristal yang mempunyai sifat yang tidak mudah menghilang 6 dengan pemanasan dan tidak larut dalam air tapi larut dalam larutan alkali dan agak larut dalam eter dan asam asetat pekat (Taryono, 2001). Kurkumin dapat menstimulasi kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon glukokortokoid sehingga dapat meningkatkan jumlah leukosit (Antony et al., 1999).


Penggunaan Lengkuas di Pakan Ternak

Lengkuas (Alpinia galanga, Linn., Willd.) merupakan anggota familia Zingiberaceae. Rimpang lengkuas mudah diperoleh di Indonesia dan berbagai khasiat di antaranya sebagai antijamur dan antibakteri. Tumbuhan lengkuas mengandung golongan senyawa flavonoid, fenol dan terpenoid. Golongan senyawa-senyawa ini sering dipergunakan sebagai bahan dasar obat-obatan modern. Sebagai contoh, senyawa terpenoid asetoksicavikol asetat, merupakan senyawa yang bersifat antitumor dari tumbuhan lengkuas (Itokawa, 1993). Senyawa artemisin bersifat antimalaria dari tumbuhan Artemisia annua (Compositae).

Senyawa ini merupakan jenis seskuiterpen dari golongan terpenoid (Colegate, 1993). Senyawa fenolik curcumin yang berasal dari kunyit (Curcuma longa) bersifat antiinflamasi dan antioksidan (Masuda, 1994). Penelitian Yuharmen et al. (2002) menunjukkan adanya aktifitas penghambatan pertumbuhan mikrobia oleh minyak atsiri dan fraksi methanol rimpang lengkuas pada beberapa spesies bakteri dan jamur. Penelitian Sundari dan Winarno (2000) menunjukkan bahwa infus ekstrak etanol rimpang lengkuas yang berisi minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan beberapa spesies jamur patogen, yaitu: Tricophyton, Mycrosporum gypseum, dan Epidermo floccasum.


Bahan Jamu

Ternak Obat tradisional merupakan obat yang terbuat dari bahan alami terutama yaitu tumbuhan. Secara keseluruhan pada tanaman obat terdapat rimpang, daun, batang, akar, bunga, dan buah mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, phenolik, triterpenoid, minyak atsiri, glikosida yang bersifat sebagai antiviral, anti bakteri dan imunomodulator. Komponen senyawa aktif tersebut bermanfaat dalam menjaga 4 kesegaran tubuh dan dapat memperlancar peredaran darah (Zainuddin dan Wibawan, 2007). Berbagai senyawa aktif tersebut merupakan komponen antioksidan. Menurut sumbernya, antioksidan digolongkan menjadi dua yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintesis. Antioksidan alami berasal dari tumbuhan, baik dari bagian tumbuhan yang dapat dimakan ataupun dari bagian tumbuhan lainnya (Pratt dan Hudson, 1990).

Jahe Jahe (Zingiber of ficinale L.) merupakan tanaman herbal, tegak, tinggi sekitar 30-60 cm. Mempunyai batang semu, beralur, berwarna hijau, daun tunggal, berwarna hijau tua, helai daun berbentuk lanset, tepi rata, ujung runcing, dan pangkalnya tumpul. Panjang daun lebih kurang 20-40 cm dan lebarnya sekitar 2-4 cm. Bunga majemuk berbentuk bulir, tangkai perbungaan panjangnya lebih kurang 25 cm, berwarna hijau merah. Kelopak berbentuk tabung, bergigi tiga. Mahkota bunga berbentuk corong panjangnya. 2-2,5 cm, berwarna ungu. Buah kotak berbentuk bulat sampai bulat panjang, berwarna coklat. Biji bulat berwarna hitam. Akar serabut, berwarna putih kotor. Rimpangnya bercabang-cabang, tebal dan agak melebar (tidak silindris), berwarna kuning pucat. Bagian dalam rimpang berserat agak kasar, berwarna kuning muda dengan ujung merah muda. Rimpang berbau khas, dan rasanya pedas menyegarkan. Berdasarkan ukuran dan warna rimpangnya terdapat 3 varitas jahe, yaitu jahe besar (disebut juga jahe gajah atau jahe badak), jahe kecil (atau jahe emprit), dan jahe merah (atau jahe sunti). Diantara ketiga varitas tersebut yang banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional adalah jahe merah, terutama bila yang diperlukan adalah khasiat minyak atsirinya (Matondang, 2007).

Muchtadi dan Sugiyono (1992) menyatakan bahwa rimpang jahe pada umumnya mengandung minyak atsiri (0,25%-3,3%), lemak (6%-8%), protein 9%, karbohidrat 50%, vitamin khususnya niacin dan vitamin A, beberapa jenis mineral dan asam amino. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan. Minyak atsiri dalam jahe berfungsi untuk memperbaiki pencernaan, perut kembung, menguatkan lambung sehingga tidak mudah luka atau memecah gas dalam perut sehingga pencernaan menjadi normal kembali serta menambah nafsu makan (Depkes.RI.No.383/12.01/1999).


Ayam Arab

Ayam arab merupakan ayam lokal pendatang yang berasal dari wilayah Eropa. Di Eropa dikenal beberapa jenis ayam lokal petelur unggul, antara lain bresse di Prancis, hamburg di Jerman, mesian di Belanda, dan braekels di Belgia. Diantara jenis ayam lokal tersebut, ayam braekels adalah jenis ayam lokal petelur introduksi yang paling dikenal di Indonesia. Ayam braekels mempunyai nama lain yaitu Gallus turcicus. Ayam arab merupakan keturunan dari ayam braekels bersifat gesit, aktif, dan daya tubuhnya kuat (Diwyanto dan Prijono, 2007).

Ayam arab yang berada di Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu ayam arab silver dan ayam arab merah Golden red. Menurut asal usulnya, ayam arab silver diduga merupakan hasil persilangan antara ayam jantan arab asli Silver braekels dengan betina lokal petelur. Ayam arab merah Golden red mempunyai bobot dewasa jantan sekitar 1,4-2,1 kg dengan betinanya sekitar 1,1-1,6 kg yang mempunyai keunggulan dalam produksi telur dan ayam arab Silver jantan dewasa mencapai 1,4-2,3 kg, sedangkan pada ayam arab Silver betina dewasa, bobot badan mencapai 0,9-1,8 kg (Diwyanto dan Prijono, 2007).

Keunggulan dari ayam ini adalah mempunyai produksi telur yang bagus, sehingga ayam lokal mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi sebuah industri perunggasan (Iskandar, 2006) Secara genetis ayam arab tergolong rumpun ayam lokal unggul, karena memiliki kemampuan produksi telur yang tinggi. Kebanyakan masyarakat memanfaatkan ayam arab ini untuk menghasilkan telur bukan untuk pedaging, karena ayam arab memiliki daging yang tipis dibanding dengan ayam lokal lainnya dan memiliki kulit yang hitam, disamping bobot afkirnya yang tergolong rendah yaitu hanya mencapai 1,1-1,2 kg, sehingga dagingnya kurang disukai masyarakat (Natalia et al., 2005).



The Effect of Herbal Cattle Against Cholesterol and Blood Profile in Arabic Chicken (Gallus turcicus)

The Effect of Herbal Cattle Against Cholesterol and Blood Profile in Arabic Chicken (Gallus turcicus)
B. B. Apriansyah, D. M. Suci, and W. Hermana

This study used Arab layer chickens. Medicinal composition consists of kencur, garlic, ginger, galangal, turmeric, curcuma, green betel leaf, and cinnamon with added molasses and EM4. The treatment in this study consisted of A0 (Provision of drinking water without the addition of herbal medicine), A1 (A0 is added to herbal medicine as many as 10 ml/ chicken, dissolved into drinking water as much as 15 ml/ day), A2 (30 ml herbal medicine/ chicken dissolved into drinking water as much as 15 ml/ day), A20 (were added 20 ml/ chicken dissolved into the drinking water of 15 ml/ day), and A30 (A0 is added to herbal medicine as many as 30 ml/ chicken, dissolved into drinking water as much as 15 ml/ day). Herbal medicine was consecutively given during three days in a week. The experimental design used was Randomized Block Design (RBD) were analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) with two groups of four treatments. The variables measured were total cholesterol, HDL, LDL, triglycerides, and blood profiles. The result showed that the addition of herbal medicine into drinking water in level 0 ml, 10 ml, 20 ml, and 30 ml did not affect the reduction of cholesterol, triglycerides, HDL, LDL, and the value of erythrocyte, hematocrit, hemoglobin, and leukocyte of Arab chicken.


Keywords : Arab chicken, traditional medicinal plant, cholesterol, blood profile

Agroforestri Kepala Sawit

Pengelolaan usahatani dengan sistem agroforestri telah dilakukan sejak lama di Indonesia. Ekadinata dan Vincent (2008) menunjukkan bahwa agroforestri karet di Kabupaten Bungo, Jambi telah dimulai sejak tahun 1973. Agroforestri yang paling umum dijumpai adalah paduan antara karet dengan buah-buahan. Tipe tutupan lahan ini seringkali disebut hutan karet karena struktur vegetasinya yang amat mirip dengan hutan. Agroforestri karet ini dapat dikatakan cenderung stabil dengan luasan sekitar 68 000 ha (15 persen) pada 1973 menjadi 54 000 ha (12 persen) pada 2002. Walaupun telah menerapkan agroforestri, secara keseluruhan jenis tutupan lahan yang paling dominan di Kabupaten Bungo adalah perkebunan monokultur (karet dan kelapa sawit) yang mencapai 41.4 persen dari total luasan Kabupaten Bungo.

Penelitian lainnya yaitu Satriawan dan Fuady (2013) menunjukkan bahwa secara turun temurun petani di Kabupaten Bireuen Aceh telah menerapkan sistem agroforestri dengan tanaman perkebunan seperti pinang dan kelapa. Jumlah pendapatan usahatani dengan sistem agroforestri tersebut dipengaruhi oleh jenis komoditas dan luas lahan. Kombinasi jenis tanaman yang menghasilkan pendapatan tertinggi adalah tanaman perkebunan (buah) dan tanaman pangan. Sedangkan pendapatan terendah diperoleh pada kombinasi tanaman kelapa dan ternak, namun pendapatan hanya diperhitungkan dari kelapa, sedangkan ternak belum menghasilkan.

Kombinasi tanaman yang hanya memperoleh satu sumber pendapatan juga ditemui pada kelapa sawit dan tanaman hortikultura (sayuran), hal ini disebabkan karena kelapa sawit belum menghasilkan (TBM). Marwah, Sinukaban. Kukuh, Bunasor, dan Ginting (2008) menyatakan bahwa sistem agroforestri di wilayah Sub DAS Konaweha, Sulawesi Tenggara mampu memberikan manfaat terhadap lingkungan dengan peningkatan cadangan karbon. Sistem agroforestri dilakukan dalam beberapa tipe berdasarkan struktur penyusunnya. Komponen penyusun sistem agroforestri di wilayah tersebut dikelompokkan ke dalam komoditi tanaman tahunan, buah-buahan, dan tanaman kehutanan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa total serapan karbon tertinggi dari sistem agroforestri yang diterapkan petani ditemukan pada tipe komponen penyusun utama tanaman perkebunan dan industri yaitu kakao, jati, kopi, cengkeh dan langsat. Besarnya total vegetasi karbon sebesar 110.92 ton/ha CO2 dan total karbon 32.20 ton/ha CO2. Sedangkan total karbon terendah dihasilkan oleh sistem agroforestri dengan komponen utama rambutan, jeruk, mangga, dan pisang dengan total vegetasi karbon sebesar 37.39 ton/ha CO2 dan total karbon 22 ton/ha CO2. Penelitian mengenai agroforestri kelapa sawit telah dilakukan sebelumnya. Muryunika (2015) menganalisis strategi pengelolaan dan pengembangan agroforestri berbasis kelapa sawit di Jambi.

Data dan informasi lainnya dikumpulkan melalui observasi dan wawancara kepada responden terpilih yaitu petani kelapa sawit yang menerapkan sistem agroforestri, petani kelapa sawit pola monokultur dan stakeholder PT. Humusindo Makmur Sejati (HMS) salah satu perusahaan kelapa sawit yang menerapkan agroforestri. Data diolah dengan analisis deskriptif, analisis strenght, weakness, opportunity dan threat (SWOT) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).

Sumber Artikel (Klik Disini)

Daya Saing Produk Kelapa Sawit

Terminologi daya saing dapat diterapkan tidak hanya pada suatu negara melainkan berlaku pula pada suatu komoditas, sektor atau bidang, dan wilayah. Terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan penetapan komoditas di daerah tertentu untuk mengetahui daya saing terutama untuk meningkatkan perekonomian daerah. Adapun metode yang dapat digunakan untuk menghitung maupun menilai dayasaing suatu komoditas pertanian antara lain Revealed Competitive Adventage (RCA), Berlian porter, dan Policy Analysis Matrix (PAM) (Novianto 2012).

Berbagai sumber menyebutkan bahwa produk kelapa sawit Indonesia yang dalam hal ini adalah Crude Palm Oil (CPO) memiliki daya saing di pasar internasional baik secara kompetitif maupun komparatif. Astriani (2014) mengungkapkan bahwa melalui metode RCA, diketahui ekspor CPO Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan tingkat daya saing yang cukup kuat di pasar internasional dengan nilai rata-rata 2.61 sedangkan negara Australia dan Jepang tidak memiliki keunggulan komparatif untuk produk CPO karena memiliki tingkat daya saing yang lemah di pasar internasional (nilai RCA lebih kecil dari satu).

Hal ini didukung pula oleh Sari (2008) dan Kania (2014) yang mengungkapkan bahwa komoditi CPO Indonesia memiliki daya saing yang tinggi (memiliki keunggulan komparatif) di pasar International dengan nilai RCA lebih dari satu. Perdagangan produk ekspor kelapa sawit Indonesia di pasar internasional sudah terbukti memiliki keunggulan komparatif tertinggi untuk CPO namun menurut Kusuma (2014) Indonesia harus lebih waspada karena suatu saat Indonesia akan memperebutkan pasar yang sama dengan negara pesaing yakni Malaysia. Sedangkan secara kompetitif, menurut Astriani (2014) daya saing CPO Indonesia berada pada tahap pematangan ekspor, sehingga produk CPO Indonesia sangat kompetitif untuk bersaing di pasar internasional. Penelitian tersebut dilakukan dengan pengukuran Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Analisis daya saing lainnya dilakukan dengan Policy Analysis Matrix (PAM).

PAM merupakan suatu metode yang digunakan untuk menganalisis keuntungan, dayasaing, dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas. Namun analisis PAM ini masih jarang diterapkan untuk tanaman tahunan seperti kelapa sawit. Beberapa penelitian terkait PAM menyebutkan bahwa usahatani kelapa sawit di beberapa daerah memiliki daya saing yang tinggi. Aprizal, Asriani, dan Sriyoto (2013) menyebutkan bahwa usahatani kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko memiliki daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif). Penelitian ini melibatkan 86 petani sebagai responden yang dipilih dengan sengaja (purposive).

Pemilihan Kabupaten Mukomuko sebagai daerah penelitian dengan alasan Mukomuko sebagai penghasil sawit terbesar di Provinsi Bengkulu. Penelitian dengan metode Policy Analysis Matrix (PAM) di Desa Bumi Mulya Kabupaten Mukomuko memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dengan nilai PCR sebesar 0.91 dan DCR sebesar 0.72. PCR 0.91 memiliki makna bahwa untuk menghasilkan satu unit nilai tambah memerlukan biaya domestik yang lebih kecil dengan kata lain bahwa Desa Bumi Mulya masih memiliki kemampuan secara finansial dalam membiayai dan memproduksi sedangkan nilai DRC tersebut menunjukkan bahwa untuk mendapatkan 1 unit nilai tambah diperlukan biaya domestik sebesar 0.72 unit pada usahatani kelapa sawit.

Semakin rendah nilai koefisien DRC berarti Desa Bumi Mulya mampu bertahan walaupun tanpa bantuan pemerintah karena memiliki sumber daya domestik yang diperlukan bagi pengembangan komoditas kelapa sawit. Penelitian lain yang menganalisis daya saing kelapa sawit dengan metode PAM dilakukan oleh Hermawati, Abidin, dan Santoso (2013). Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lampung Timur ini melibatkan 26 petani kelapa sawit. Umur maksimal kelapa sawit pada lokasi penelitian Hermawati, Abidin, dan Santoso (2013) adalah 13 tahun sehingga untuk megetahui produksi sampai umur ekonomis tanaman dilakukan analisis trend kuadratik.


Penelitian tersebut menujukkan bahwa usahatani kelapa sawit memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Keunggulan kompetitif ditunjukkan dengan rasio biaya privat (PCR) yang kurang dari satu yaitu 0.68. Nilai ini dapat mengandung makna bahwa untuk menghasilkan satu satuan produksi secara privat membutuhkan sumberdaya domestik sebanyak 68 persen atau dengan kata lain untuk memperoleh nilai tambah sebesar 1 rupiah diperlukan biaya input domestik sebesar 0.65 rupiah. Sedangkan keunggulan komparatif ditunjukkan dengan rasio biaya domestik (DRC) yang kurang dari satu yaitu 0.65. Nilai ini mengandung makna bahwa untuk menghasilkan satu satuan produksi secara ekonomi membutuhkan sumberdaya domestik sebesar 65 persen atau dengan kata lain untuk memperoleh nilai tambah sebesar 1 rupiah diperlukan biaya input domestik sebesar 0.65 rupiah.

Status Konservasi Banteng

Sebagai satwa langka dan terancam kelestariannya, maka perlindungan akan banteng sangat diperlukan, terutama dari perburuan yang dilakukan oleh pemburu liar serta terdesaknya habitat banteng oleh pemukiman manusia. Kegiatan pelestarian dilakukan dengan penetapan peraturan dalam berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species (2008) masuk dalam kategori endangered yang merupakan status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang menghadapi resiko kepunahan di alam liar yang tinggi pada waktu yang akan datang.

Status endangered ini diberikan pada banteng karena penurunan populasinya mencapai 80% terutama di Indochina. Berdasarkan adanya pengamatan langsung telah terjadi penurunan banteng sebesar 50%, hal ini diakibatkan oleh tingginya perdagangan illegal terhadap tanduk banteng. Hal serupa diproyeksikan sebagian besar karena perdagangan hewan-hewan tak terkendali di Asia Tenggara dan perburuan untuk perdagangan tanduk, serta hilangnya habitat dan degradasi di Jawa. Pemerintah Indonesia memasukan banteng dalam Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 sebagai salah satu satwa yang dilindungi keberadaannya.


Palatabilitas Pakan dan Daya Dukung

Ivins (1952) dalam Mcllroy (1977) mendefinisikann palatabilitas sebagai hasil keseluruhan dari faktor-faktor yang menentukan apakah dan sampai di mana sesuatu makanan menarik bagi satwa. Menurut Mcllroy (1977), faktor-faktor yang mempengaruhi palatabilitas adalah fase pertumbuhan dan kondisi hijauan, kesempatan memilih hijauan lain, tata laksana terhadap hijauan, pemupukan, dan sifat-sifat satwa.

Palatabilitas dapat diuji dengan sistem prasmanan, yaitu dengan cara menyediakan petak-petak tanah yang ditanami dengan sejumlah hijauan yang berbeda. Satwa diberi kebebasan merumput menurut seleranya di petak-petak tersebut, dan waktu yang dihabiskan di tiap-tiap petak atau jumlah hijauan yang direnggut memberikan indeks palatabilitas relatif dari tiap jenis hijauan yang bersangkutan (Mcllroy 1977).


Daya dukung adalah kemampuan suatu areal atau kawasan untuk mendukung satwa pada suatu periode tertentu dalam hubungannya dengan kebutuhan hidup satwa seperti reproduksi, pertumbuhan, pemeliharaan, dan pergerakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya dukung adalah iklim, tanah, topografi dan tingkat pengelolaan (Ontario 1980 dalam Siswanto 1982). Besarnya daya dukung suatu areal dapat dicari melalui pengukuran salah satu faktor habitat, diantaranya melalui pendekatan terhadap pakan (Syarief 1974). Alikodra (1979) menyatakan faktor yang perlu diketahui dari daya dukung areal adalah kebutuhan makan bagi satwa dan produksi rumput makanan satwa.

Produktivitas Padang Rumput

Padang rumput adalah salah satu komponen habitat yang berfungsi sebagai tempat makan, istirahat, bermain, dan berkembang biak banteng. Luas padang rumput, produktivitas, kualitas, dan palatabilitas pakan yang tinggi akan mempengaruhi jumlah banteng yang menempatinya. Produktivitas merupakan hasil yang dipungut atau dipanen per satuan bobot, luas, dan waktu. Sedangkan biomas merupakan hasil yang dipungut atau dipanen per satuan luas dan bobot.

McIlory (1977) menyatakan bahwa produktivitas padang rumput tergantung dari beberapa faktor yaitu:
1. Persistensi (daya tahan) kemampuan untuk bertahan hidup dan berkembang secara vegetatif
2. Agresivitas (daya saing) kemampuan untuk memenangkan persaingan dengan spesies-spesies lain yang hidup bersama.
3. Kemampuan untuk tumbuh kembali setelah mengalami kerusakan
4. Sifat tanah kering dan tahan kering
5. Penyebaran produksi musiman
6. Kemampuan menghasilkan cukup banyak biji yang dapat tumbuh baik atau dapat berkembang biak secara vegetatif
7. Kesuburan tanah

8. Iklim terutama besarnya curah hujan dan distribusi hujan Tidak semua bagian rumput dimakan oleh satwa, tetapi ada sebagian yang ditinggalkannya untuk menjamin pertumbuhan selanjutnya. Bagian rumput yang dimakan oleh satwa disebut proper use (Susetyo 1980).

Pakan Banteng

Banteng memiliki perilaku yang dominan berupa kegiatan merumput. Alikodra (1983) menyatakan bahwa pada waktu siang hari banteng lebih memilih padang terbuka dan biasanya mereka terdiri dari beberapa kawanan banteng yang berkisar antara 10-12 ekor terdiri dari banteng jantan dewasa, induk dan anakanaknya. Banteng merumput sambil berjalan berlawanan dengan arah mata angin dan selalu bersikap waspada serta selalu memperhatikan keadaan sekitarnya.

Hoogerwerf (1970) menyatakan banteng akan mulai merumput jika cuaca cukup cerah, kelompok banteng tersebut akan memilih hari yang agak berawan dibandingkan hari yang amat terik. Alikodra (1983), menyatakan bahwa jenis rerumputan yang dimakan oleh banteng diantaranya: jampang piit (Cytococum patens), rumput geganjuran (Paspalum commersonii), rumput bambu (Panicum montanum), rumput memerakan (Themeda arquens), ki pait (Axonopus compresus) dan alang-alang (Imperata cylindrical).


Banteng biasanya beristirahat setelah mencari makan pada pagi hari menjelang siang hari. Pada saat matahari bersinar terik, biasanya banteng akan beristirahat di bawah tegakan hutan. Jika cuaca cerah atau agak berawan banteng lebih sering berada di padang penggembalaan dan kadang pula banteng terlihat beristirahat di tepi pantai (Lekagul & McNeely 1977).

Back To Top