Sekilas Peternakan

Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Tanah Latosol

Tanah latosol adalah tanah yang terbentuk dari batuan beku, sedimen dan metafomorf (proses terjadinya batuan hingga tanah setelah meletusnya gunung berapi). Tanah latosol memiliki ciri-ciri yaitu: merupakan jenis tanah yang telah berkembang atau terjadi deferensiasi horison, solum dalam, tekstur lempung, warna coklat, merah hingga kuning, terseba di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 3000 mm/tahun, ketinggian tempat berkisar antara 300-1000 meter diatas permukaan laut, mudah menyerap air, kandungan bahan organik sedang, memiliki pH 6-7 (netral) hingga asam, memiliki zat fosfat yang mudah bersenyawa dengan unsur besi dan Aluminium, kadar humusnya mudah menurun (Purwaningsih, 2013).

Tanah ini tersebar di kawasan bukit barisan (Sumatera), jawa, Kalimantan Timur dan Selatan, Bali, Papua, dan Sulawesi. Tanah ini juga bersuhu sedang  karena merupakan bagian dari tanah vulkanis yang bersuhu sedang (Purwaningsih, 2013).

Tanah latosol disebut juga sebagai tanah inseptisol. Tanah ini mempunyai lapisan solum tanah yang tebal sampai sangat tebal yaitu dari 130 cm sampai 5 meter bahkan lebih, sedangkan batas antara horizon tidak begitu jelas. Warna dari tanah latosol adalah merah, coklat sampai kekuning-kuningan. Kandungan bahan organiknya berkisar antara 3-9% tapi biasanya sekitar 5% saja. Reaksi tanah bekisar antara pH 4,5 – 6,5 yaitu dari asam sampai agak asam. Tekstur seluruh solum tanah ini umumnya adalah liat, sedangkan strukturnya remah dengan konsistensi adalah gembur. Dari warna bisa dilihat unsur haranya. Semakin merah tanah, kadar unsur haranya semakin sedikit. Pada umumnya kandungan unsur hara ini dari rendah sampai sedang. Sedikit lebih sukar merembes air, daya menahan air cukup baik dan agak tahan terhadap erosi (Purwaningsih, 2013).

Pada umunya tanah latosol ini kadar unsur hara dan organiknya cukup rendah, sedangkan produktivitas tanahnya dari sedang sampai tinggi. Tanah ini memerlukan input yang memadai. Tanaman yang bisa ditanam didaerah ini adalah padi (persawahan), sayur-sayuran dan buah-buahan, palawija, kemudian kelapa sawit, karet, cengkeh, kopi dan lada. Secara keseluruhan tanah latosol mempunyai sifat-sifat fisik yang baik akan tetapi sifat-sifat kimianya kurang baik (Purwaningsih, 2013).


Biomassa Akar

Akar adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tanaman dan mempunyai fungsi yang sama pentingnya dengan bagian atas tanaman, potensi pertumbuhan akar perlu dicapai sepenuhnya untuk mendapatkan potensi pertumbuhan bagian atas tanaman, ini berarti bahwa semakin banyak akar semakin tinggi hasil tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995). Pertumbuhan akar yang kuat lazimnya diperlukan untuk kekuatan dan pertumbuhan pucuk pada umumnya. Apabila akar mengalami kerusakan dan kurang berfungsi, maka pertumbuhan pucuk juga akan kurang berfungsi (Gardner et al., 2008).

Pengukuran biomassa total tanaman akan merupakan parameter yang paling baik digunakan sebagai indikator pertumbuhan tanaman, alasan pokok lain dalam penggunaan biomassa total tanaman adalah bahwa bahan kering tanaman dipandang sebagai manifestasi dari semua proses dan peristiwa yang terjadi dalam pertumbuhan tanaman. Karena itu parameter ini dapat digunakan sebagai ukuran global pertumbuhan tanaman dengan segala peristiwa yang dialaminya (Sitompul dan Guritno, 1995).


Produksi Bahan Kering

Bahan kering adalah bahan pakan yang tidak mengandung air. Di dalam bahan kering ini sendiri terdapat mineral dan bahan organik (Kartadisastra, 1997). Bahan kering merupakan salah satu hasil dari pembagian fraksi yang berasal dari bahan pakan setelah dikurangi kadar air. Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis) (Immawatitari, 2014).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar bahan kering antara lain : jenis tanaman, fase pertumbuhan, waktu pemotongan, air tanah serta kesuburan tanah. Kandungan bahan kering tanaman pada musim penghujan relatif rendah karena pertumbuhan tanaman lebih cepat, air tercukupi dan kondisi lingkungan lembab sehingga transpirasi berkurang (Reksohadiprodjo, 2005).

Proses respirasi masih dapat terjadi pada hijauan segar yang telah dipotong, respiprasi akan mengambil O2 dari lingkungan serta menggunakan cadangan makanan berupa karbohidrat dan bahan lain untuk menghasilkan energi, uap air serta panas. Respirasi adalah salah satu faktor utama kehilangan bahan kering pada proses pengeringan karena proses respiasi menggunakan substrat berupa gula dan asam-asam lainnya. Suhu diidentifikasi sebagai faktor lingkungan utama yang menyebabkan proses respirasi pada produk segar. Reaksi biologisnya meningkat terus dengan bertambahnya suhu lingkungan (naik setiap penambahan suhu 100C) (Ludlow et al., 1980).


Pueraria javanica

Genus Pueraria berasal dari Asia bagian Timur dan Kepulauan Pasifik. Legum ini bersifat membelit, merambat, dan dapat membentuk semak yang rimbun dengan perakaran yang berbentuk tuber yang kuat dengan pokok akar yang disebut mahkota (crown). Nama lain Pueraria javanica adalah puero atau kacang ruji (Reksohadiprodjo, 2005).

Pueraria javanica digunakan sebagai makanan ternak, sangat palatabel untuk ruminansia (Allen, 1981). Kandungan nutrisi Pueraria javanica terdiri dari protein kasar 20,5 %, serat kasar 37, 9 %, dan lemak kasar 2,0 % (Gohl, 1981), produksi bahan kering dari hijauan Pueraria javanica berkisar antara 5-10 ton/ hektar (Rukmana, 2005).

Pueraria javanica memiliki kultur teknis dikembangbiakkan dengan biji. Puero termasuk tanaman jenis legum berumur panjang yang berasal dari daerah subtropis, tetapi bisa hidup didaerah tropik dengan kelembapan yang tinggi. Tanaman ini tumbuh menjalar (membelit), bisa membentuk hamparan dengan ketinggian 60-75 cm (Sutopo, 1985), tanaman ini mempunyai panjang sulur sekitar 1-3 m (Skerman, 1997). Puero berasal dari india Timur, siklus hidupnya perenial. Ciri-cirinya tumbuh merambat, membelit dan memanjat. Sifat perakarannya dalam, daun muda tertutup bulu berwarna coklat, daunnya berwarna hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan (Soegiri, 1982).

Puero mempunyai stolon yang dapat mengeluarkan akar dari tiap ruas batangnya yang bersinggungan dengan tanah. Perakarannya dalam dan bercabang-cabang, sehingga puero dapat berfungsi sebagai pencegah erosi, tahan musim kemarau yang tidak terlalu panjang. Puero tahan pula terhadap tanah masam dan tanah kekurangan kapur dan fospor, tahan permukaan air yang tinggi, dapat hidup ditanah liat maupun berpasir (Reksohadiprodjo, 2005). Jenis legum ini tergolong tanaman pioner dan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menekan pertumbuhan gulma (Maulidesta, 2005).


Stylosanthes guianensis

Legum Styloshanthes guianensis (Stylo) merupakan salah satu tanaman pakan yang sangat disukai ternak, kaya akan protein dan mineral. Kandungan nutrisi hasil uji lab BPMSP Bekasi Tahun 2015: kadar air 76,63%, abu 10,98%, protein kasar 19,87%, lemak kasar 1,51%, serat kasar 32,27%, Ca 1,82% dan P 0,19%. Stylo ini sangat disukai ternak ruminansia seperti kambing, domba maupun sapi dan kerbau, bahkan dapat digunakan pula sebagai feed suplement untuk ternak ayam, babi dan ikan. Tanaman ini dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering yang diproses dalam bentuk tepung daun. Salah satu kelebihan dari legum ini adalah daun dan batang lembut walaupun umur tanaman sudah cukup tua  karena panen/ pemotongan yang terlambat, sehingga pemberiannya kepada ternak masih baik dilakukan karena tidak berpengaruh terhadap palatabilitas ternak (Balai Inseminasi Buatan Lembang, 2016).

Sistematika Stylosanthes guianensis adalah Phylum :Spermatophytae, Sub phylum: Angiospermae, Classis: Dicotyledoneae, Ordo: Rosales, Sub Ordo: Rosinae, Famili: Leguminoseae, Sub Famili: Papilionaceae, Genus: Stylosanthes, Species: Stylosanthes guianensis (Reksohadiprodjo, 2005).

Legum stylo (Stylosanthes guianensis) termasuk tanaman berumur panjang (menahun) yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 100–150 cm menyerupai semak. Tanaman ini mempunyai batang yang kasar, berbulu serta rimbun menutupi tanah. Tanaman ini setiap tangkai berdaun tiga helai dan berbentuk elips atau pedang yang ujungnya meruncing. Panjang daun 1-6 cm, agak berbulu dengan tangkai daun panjangnya 1-10 mm. Bunganya berbentuk kupu-kupu kecil tersusun dalam tandan dan berwarna kuning, karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga yang setiap karangan bunga mengandung 40 bunga. Stylo (Stylosanthes guianensis) berbuah polong, setiap polongnya mengandung satu biji yang berwarna coklat kekuningan. Panjang tiap polongnya 2-3 mm, lebarnya 1,5-2,5 mm. Sedangkan system perakarannya luas masuk jauh ke dalam tanah, sehingga tahan terhadap kekeringan (Hardjowigeno, 2003).

Legume stylo dapat tumbuh di tanah yang luas kisaran kondisinya dengan curah hujan sedang sampai tinggi di daerah tropik dan subtropik, sangat toleran terhadap kesuburan tanah yang rendah (Reksohadiprodjo, 2005). Legume stylo (Stylosanthes guianensis) dapat tumbuh baik pada tanah-tanah kering maupun basah serta cocok ditanam pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan minimal 875 mm setahun dengan ketinggian 0 – 1000 mm di atas permukaan laut. Legume stylo merupakan jenis legume yang memberikan harapan baik untuk sebagian besar daerah di Indonesia (Manetje dan Jones, 2000).

Disamping itu tanaman stylo dapat berfungsi dengan baik terhadap penutupan tanah dengan perakaran yang dalam mampu mencegah terjadinya evaporasi yang berlebihan sehingga lebih memungkinkan tersedianya air dalam tanah yang merupakan faktor penting dalam mekanisme penyerapan hara dimana akar lebih banyak mengabsorbsi hara dalam suasana lembab dari pada bila akar tumbuh dalam suasana kering (Sabiham et al., 2007).

Umur tanaman berpengaruh pada kandungan nutrisi dan produksi legum stylo. Pemotongan lebih awal akan meningkatkan kandungan protein kasar pada daun dan batang, namun menurun pada produksi biomassa dan menurun pada kandungan dinding sel. Pada pemotongan yang lebih lama produksi tanaman meningkat, namun kualitasnya menurun berhubungan dengan kandungan dinding sel meningkat dan kandungan protein kasar menurun (Boschini, 2002).


Legum stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan 20-25 cm di atas permukaan tanah. Berbeda dengan jenis rumputan, umur panen lebih singkat. Panen pertama 3 bulan (90 hari setelah masa tanam) sedangkan penen berikutnya 30-40 hari pada musim penghujan dan 40-50 hari pada musim kemarau dengan tinggi pemotongan 5-10 cm dari permukaan tanah (Reksohadiprodjo, 2005).

Hijauan Makanan Ternak

Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia dan juga berfungsi sebagai suplai zat gizi seperti protein, energi, vitamin, dan mineral. Penyediaan pakan yang berkesinambungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produksi seekor ternak (Murtidjo, 2001).

Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun, termasuk kedalamnya rumput (gramineae), leguminose dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain seperti daun nangka. Untuk dapat dijadikan bahan makanan yang sempurna, hijauan harus memenuhi 3 syarat penting, yaitu; mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dicerna, diberikan dalam jumlah yang cukup (Sumaprastowo, 2000).

Leguminosa merupakan tanaman yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan bahan organik tinggi dan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah. Mengikat nitrogen dari udara oleh leguminosa dapat membantu meningkatkan ketersediaan hara terutama nitrogen bagi tanaman disampingnya (Mansyur et al., 2005).

Leguminosa memiliki sifat yang berbeda dengan rumput-rumputan. Leguminosa adalah tanaman dikotiledon (bijinya terdiri dari dua kotiledon atau disebut juga berkeping dua. Leguminosa mempunyai sifat-sifat yang baik sebagai bahan pakan dan mempunyai kandungan nutrisi cukup tinggi (Susetyo et al., 2001). Ditinjau dari bentuknya, tanaman leguminosa dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Leguminosa Pohon; merupakan jenis tanaman leguminosa yang berkayu dan mempunyai tinggi lebih dari 1,5 meter.
2. Leguminosa Semak; merupakan jenis tanaman leguminosa yang mempunyai tinggi kurang dari 1,5 meter. Sifat tumbuhnya memanjat (twinning) dan merambat (trilling) (Dodymisa, 2015).


Kapasitas Lapang

Kapasitas lapang adalah kondisi ketika komposisi air dan udara di dalam tanah berimbang, biasanya dicapai 2 atau 3 hari sejak terjadi pembasahan atau hujan, dan setelah proses drainase berhenti. Bila tanah dalam keadaan kering, pemberian air ditujukan untuk membasahi tanah sampai mencapai kapasitas lapangan, khususnya disekitar daerah perakaran tanaman. Kandungan air tanah pada kapasitas lapangan sangat tergantung pada berbagai macam faktor, diantaranya tekstur tanah, kandungan air tanah awal, dan kedalaman permukaan air tanah (Kurnia et al., 2014).

Selama air di dalam tanah masih lebih tinggi daripada kapasitas lapang maka tanah akan tetap lembab, ini disebabkan air kapiler selalu dapat mengganti kehilangan air karena proses evaporasi. Bila kelembaban tanah turun sampai di bawah kapasitas lapang maka air menjadi tidak mobile. Akar-akar akan membentuk cabang-cabang lebih banyak, pemanjangan lebih cepat untuk mendapatkan air bagi konsumsinya (Kurnia et al., 2014).

Oleh karena itu akar-akar tanaman yang tumbuh pada tanah-tanah yang kandungan air di bawah kapasitas lapang akan selalu becabang-cabang dengan hebat sekali. Kapasitas lapang sangat penting pula artinya karena dapat menunjukkan kandungan maksimum dari tanah dan dapat menentukan jumlah air pengairan yang diperlukan untuk membasahi tanah sampai lapisan di bawahnya. Tergantung dari tekstur lapisan tanahnya maka untuk menaikkan kelembaban 1 feet tanah kering sampai kapasitas lapang diperlukan air pengairan sebesar 0,5 – 3 inci (Kurnia et al., 2014).

Air merupakan komponen penting dalam tanah yang dapat menguntungkan dan sering pula merugikan. Beberapa peranan yang menguntungkan dari air dalam tanah adalah sebagai pelarut dan pembawa ion-ion hara dari rhizosfer ke dalam akar tanaman, sebagai agen pemicu pelapukan bahan induk, perkembangan tanah, sebagai pelarut dan pemicu reaksi kimia dalam penyediaan hara, sebagai penopang aktivitas mikroba dalam merombak unsur hara yang semula tidak tersedia menjadi tersedia bagi akar tanaman, sebagai pembawa oksigen terlarut ke dalam tanah, sebagai stabilisator temperatur tanah dan mempermudah dalam pengolahan tanah (Hanafiah, 2007).

Air di dalam tanah adalah salah satu faktor penting dalam produksi tanaman. Air harus tersedia dalam tanah untuk menggantikan air yang hilang karena evaporasi dari tanah dan transpirasi dari tanaman. Air dalam tanah selalu membawa nutrisi dalam larutannya untuk pertumbuhan tanaman (Thorne, 1979).

Selain beberapa peranan yang menguntungkan, air tanah juga menyebabkan beberapa hal yang merugikan, yaitu mempercepat proses pemiskinan hara dalam tanah akibat proses pencucian yang terjadi secara intensif, mempercepat proses perubahan horizon dalam tanah akibat terjadinya eluviasi dari lapisan tanah atas ke lapisan tanah bawah dan menghambat aliran udara ke dalam tanah apabila dalam kondisi jenuh air yang menjadikan ruang pori secara keseluruhan terisi air sehingga mengganggu respirasi dan serapan hara oleh akar tanaman, serta menyebabkan perubahan reaksi tanah dari reaksi aerob menjadi reaksi anaerob (Yulipriyanto, 2010).
Menurut Hardjowigeno (2003), bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Kapasitas lapang adalah jumlah air maksimum yang dapat disimpan oleh suatu tanah. Keadaan ini dapat dicapai jika kita memberi air pada tanah sampai terjadi kelebihan air, setelah itu kelebihan airnya dibuang. Jadi pada keadaan ini semua rongga pori terisi air (Sutanto, 2005).

Setelah semua pori terisi udara (terjadi kapasitas penyimpanan air maksimum) pemberian air dihentikan. Karena adanya gaya gravitasi, gerakan air tanah tetap berlangsung. Gerakan ini makin lama makin lambat dan setelah kurang lebih dua sampai tiga hari gerakan tersebut praktis terhenti, pada keadaan ini air dalam tanah dalam keadaan kapasitas lapang. Jika proses kehilangan air dibiarkan berlangsung terus, pada suatu saat akhirnya kandungan air tanah sedemikian rendahnya sehingga energi potensialnya sangat tinggi dan mengakibatkan tanaman tidak mampu menggunakan air tersebut. Hal ini ditandai dengan layunya tanaman terus menerus, oleh karena itu keadaan air tanah pada keadaan ini disebut titik layu permanen (Sutanto, 2005).

Air tanah yang berada diantara kapasitas lapang dan titik layu permanen merupakan air yang dapat digunakan oleh tanaman, oleh karena itu disebut air tersedia (available water). Perbedaan tekstur, kadar bahan organik dan kematangannya merupakan penyebab berbedanya tingginya kadar air pada masing-masing kondisi kapasitas lapang, titik layu permanen dan air tersedia. Hal ini dikarenakan kandungan air pada saat kapasitas lapang dan titik layu permanen berbeda pada setiap tanah yang memiliki tekstur berbeda. Pada tanah pasir nilai titik layu permanen maupun kapasitas lapang berada pada nilai terendah. Nilai-nilai itu semakin meningkat dengan semakin tingginya kadar debu, liat dan bahan organik tanah (Islami dan Utomo, 2011).

Kadar air tanah dipengaruhi oleh kadar bahan organik tanah dan kedalaman solum, makin tinggi kadar bahan organik tanah akan makin tinggi kadar air, serta makin dalam kedalaman solum tanah maka kadar air juga semakin tinggi (Hanafiah, 2007).




Cekaman Kekeringan

Cekaman kekeringan adalah kondisi perubahan lingkungan yang kekurangan air yang akan menurunkan atau merugikan pertumbuhan atau perkembangan tumbuhan. Cekaman kekeringan mempengaruhi semua aspek pertumbuhan dan metabolisme tanaman termasuk integritas membran, kandungan pigmen, keseimbangan osmotik, aktivitas fotosintesis (Anjum et al., 2011; Bhardwaj dan Yadav, 2012), penurunan potensial air protoplasma (Mundre, 2002), penurunan pertumbuhan (Suhartono et al., 2008), dan penurunan diameter batang (Belitz dan Sams, 2007). Jika kebutuhan air tidak dipenuhi maka pertumbuhan tanaman akan terhambat, karena air berfungsi melarutkan unsur hara dan membantu proses metabolisme dalam tanaman (Wayah et al., 2014).

Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui tanah dengan jalan penyerapan oleh akar. Besarnya air yang diserap akar tanaman sangat tergantung pada kadar air dalam tanah ditentukan oleh pF ( Kemampuan partikel tanah memegang air), dan kemampuan akar untuk menyerapnya (Jumin, 2008). Cara adaptasi tanaman terhadap kekeringan bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan tahap-tahap perkembangan tumbuhan (Anjum et al., 2011).

Respon adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat berupa respon jangka panjang, seperti perubahan pertumbuhan, dan perubahan biokimiawi. Perubahan pertumbuhan meliputi penurunan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan perubahan biokimia dapat berupa akumulasi senyawa organik kompatibel yang berfungsi menjaga keseimbangan osmolit dalam tubuh tumbuhan (Arve et al., 2011). Salah satu senyawa organik kompatibel yang sering diamukulasi oleh tanaman ketika berada pada kondisi kekeringan yaitu prolin (Farooq et al., 2009). Peranan prolin adalah sebagai penampung nitrogen dari berbagai senyawa nitrogen yang berasal dari kerusakan protein, sebagai senyawa pelindung untuk mengurangi pengaruh kerusakan cekaman air di sel (Universitas Gajah Mada, 2016).


Jenis kerbau perah

Ada 10 jenis kerbau perah yang terbagi menjadi 3 tipe. Pengelompokan dalam tipe ini berdasarkan kepada tempat asal kerbau diternakkan. Ketiga tipe kerbau perah tersebut adalah sebagai berikut  :
  1. Western type atau tipe India utara. Tergolong tipe ini adalah :
  • Kerbau Jaffarabadi
    Kerbau ini merupakan jenis kerbau yang banyak diternakkan di daerah Gujarat India. Kerbau jantan beratnya sekitar 500 kg. Kerbau betina memiliki berat sekitar 45 kg. Ciri lain adalah kepala yang besar dan lebar, serta memiliki tanduk tipis menggantung ke leher dengan ujung melengkung. Kerbau ini menghasilkan susu 2.250-3.000 kg selama masa laktasi sekitar 10 bulan.
  • Kerbau Surati
    Kerbau ini terdapat di distrik Surati negara bagian Gujarat. Kerbau jantan beratnya sekitar 500 kg. Kerbau betina memiliki berat 450 kg.  Susu dihasilkan bisa mencapai 2.500-3000 kg selama masa laktasi 10 bulan.
  • Kerbau Mehsana
    Kerbau ini merupakan hasil persilangan antara sapi murrah dan kerbau surati. Kerbau jantan beratnya sekitar 560 kg dan betina 430 kg. Sebagai penghasil susu, kerbau perah ini sangat populer di daerah Maharastra dan Gujarat.
  1. Northern type atau tipe India utara. Tergolong dalam kelompok ini adalah :
  • Kerbau Murrah (Dehli)
    Kerbau ini diternak di daerah Uttar Pradesh, Dehli, Haryana dan Punjab. Kerbau jantan beratnya sekitar 565 kg dan betina 430 kg. Kerbau ini mampu menghasilkan susu 2.500-3.500 kg per masa laktasi (10 bulan). Di Indonesia kerbau ini banyak diternak oleh orang keturunan India di Medan, Sumatera Utara dan dikenal dengan nama Sapi Murrah.
  • Kerbau Kundhi
    Kerbau kundhi banyak terdapat di lembah sungai Indus, Pakistan. Bentuknya hampir mirip sapi murrah. Kerbau betina diperah susunya dan kerbau jantan dipakai untuk ternak pekerja.
  • Kerbau Nili dan Ravi
    Kerbau Nili terdapat di daerah Ferozepor dan Amritzar di negara bagian Punjab, India dan di Pakistan. Bentuk badan kerbau Nili lebih panjang dari sapi murrah. Berat kerbau jantan sekitar 590 kg dan betina 450 kg. Susu yang dihasilkan 10-12 kg per hari dengan masa laktasi sekitar 25 hari. Berat kerbau ravi jantan sekitar 680 kg dan betina 630 kg. Susu yang dihasilkan rata-rata 2000 kg per masa laktasi (10 bulan).
  1. South, central dan eastern atau tipe India bagian selatan, tengah dan timur. Tergolong dalam kelompok ternak tipe ini adalah :
  • Kerbau Nagpuri
    Kerbau perah ini banyak diternak di Nagpur, Maharashtra, Andhra Pradesh dan Mahya Pradesh. Kerbau ini bertanduk melengkung panjang sekali. Susu dihasilkan rendah, hanya 900-1.200 kg selama laktasi.
  • Kerbau Parlakimadi
    Kerbau ini banyak terdapat di distrik Ganyam dan Vishakhapatnam daerah Oissa (pantai timur india). Susu dihasilkan rendah yaitu sebesar 750-900 kg selama laktasi.
  • Kerbau Thwada
    Kerbau ini terdapat di dataran tinggi Nilgiri, India Selatan. Kerbau toda bertanduk panjang melengkung dan banyak dipakai untuk keperluan upacara keagamaan. Hasil susu rendah sekitar 5-7.5 kg per hari.

Nili Ravi
Kerbau ini termasuk kerbau sungai tipe perah yang banyak ditemukan di Lahore, Sheikhupura, Faisalabad, Sahiwal, Multan dan Bahawal Nagar di provinsi Punjab.Kerbau ini berwarna hitam dan memiliki berat dewasa rata-rata 800kg pada jantan dan 525kg pada betina.Kerbau ini bertanduk pendek melingkar dan kadang dijumpai warna putih pada dahi,kaki atau ekor.Hasil susu rata-rata pada 305 hari adalah 1950kg.

Surti
Surti adalah salah satu jenis kerbau sungai tipe perah yang berhabitat di barat daya Gujarat,India.Kerbau ini berwarna hitam ataupun cokelat.Bentuk tanduk tumbuh kebawah lalu mengarah keatas pada ujungnya.Berat rata-rata sekitar 450kg-800kg.Hasil rata-rata susu per 305hari adalah 1400kg.

Bhadawari
Kerbau ini merupakan kerbau tipe perah yang berasal dari Agra,India.Tubuh kerbau ini berwarna abu-abu dengan rambut berwarna tembaga.Bentuk tanduk pendek melengkung ke bawah lalu kembali ke atas.Berat badannya 400kg-700kg dan hasil rata-rata susunya per305hari adalah 1100kg.







Pandharpuri
Kerbau pandharpuri merupakan kerbau tipe perah yang berasal dari Solapur,Kolhapur dan Sangli,India.Bertanduk panjang dan tubuh berwarna hitam.Berat rata-rata kerbau ini 470kg-600kg.Hasol susu rata-rata per 305 hari adalah 1400kg.



Kerbau Murrah 
Kerbau murrah adalah salah satu jenis dari kerbau sungai yang berasal dari negara India.Kerbau ini berwarna hitam legam dan bertanduk pendek spital dan kadang dijumpai warna putih pada kepala kaki dan ujung ekor.Berat Kerbau jantan berkisar antara 400kg-800kg dengan berat rata-rata 550kg dan betina 450kg.Kerbau ini terkenal dengan susunya sehingga dipergunakan sebagai kerbau perah.India dan Pakistan adalah Pemuncak Pengekspor SusuKerbau di dunia.Di Italia susu dari kerbau murrah banyak digunakan untuk bahan baku Keju Mozzarella sebagai campuran makanan seperti Pizza.Rata rata hasil susu dalam 305 hari adalah 2000kg.


Kadar Lemak dan pH Susu Fermentasi

Menurut Wahyuni (2009) yang menyatakan bahwa kadar lemak dapat meningkat karena adanya aktivitas sejumlah bakteri dalam bambu terdapat bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus sp, sehingga kandungan lemak pada dadih pun akan meningkat karena bakteri tersebut dapat membentuk asam lemak dan gliserol.

Semakin banyaknya asam lemak yang dapat diuraikan oleh BAL maka semakin tinggi kadar lemaknya. Kadar lemak pada dadih akan meningkat namun dadih tidak berbahaya apabila dikonsumsi oleh penderita hiperkolesterol (Winarno, 1993).

Peningkatan kadar lemak dadih dibandingkan kadar lemak susu bahan baku dadih dipengaruhi oleh aktivitas BAL yang terdapat dalam bambu, terutama produksi enzim triasilgliserol lipase yang dapat membentuk asam lemak dari trigliserida (Taufik, 2004).

pH
Menurut Soeparno et al (2001) yang menyatakan bahwa perubahan pH susu disebabkan karena terbentuknya asam laktat dari laktosa karena adanya bakteri pembentuk asam laktat. Keasaman dadih selain tergantung pada kandungan protein juga dipengaruhi oleh aktivitas bakteri yang merombak laktosa menjadi asam laktat sehingga dadih menjadi asam.

Peningkatan kadar asam dan penurunan pH pada fermentasi susu dengan kultur BAL terlihat selama 24 jam. Hal ini diduga karena bakteri-bakteri starter menghasilkan asam laktat melalui persatuan waktu sehingga menyebabkan penurunan pH (Afriani, 2010).
Universitas


Kadar Protein Susu Fermentasi

Menurut Sumarlim (2009) salah satu komposisi susu yang paling berperan dalam fermentasi adalah laktosa, terbentuknya asam laktat hasil fermentasi laktosa susu dengan enzim laktase dari BAL.

Laktosa merupakan sumber karbon optimal bagi bakteri asam laktat yang digunakan sehingga dapat menyebabkan protein meningkat. Semakin banyak laktosa yang terkandung dalam susu berarti juga membentuk asam laktat yang tinggi, sehingga semakin banyak nilai protein yang dihasilkan sebagai metabolismenya (Yusmarini dan Raswen, 2004).

Menurut Karmana (2007), fermentasi pada susu biasanya dilakukan oleh bakteri Streptococcus dan Lactobacillus, yang akan merombak laktosa menjadi asam laktat. Berarti semakin lama pemeraman asam laktat yang terbentuk akan semakin banyak dan pH akan turun karena suasana menjadi asam, yang akan menyebabkan protein pada susu (kasein) menggumpal.

Kadar protein pada dadih selain berasal dari protein susu juga berasal dari protein dalam bakteri itu sendiri yang dapat menyumbangkan sekitar 7% dari total protein susu atau produk olahan susu (Gulo, 2006)




Kandungan Nutrisi Dadih

Kandungan nutrisi dadih bervariasi, bergantung pada daerah produksinya. Menurut Sirait dan Setiyanto (1995), dadih mengandung air 82,10 %, protein 6,99%, lemak 8,08%, keasaman 13,15°D, dan pH 4,99. Kandungan laktosa dadih 5,29%, pH 3,4 serta daya cerna protein cukup tinggi (86,4-97,7%). Dadih mengandung 16 asam amino (13 asam amino esensial dan tiga asam amino nonesensial) sehingga dapat menjadi makanan bergizi yang mudah diserap tubuh, dan vitamin A1, 70-7,22 IU/g (Yudoamijoyo et al., 1983).

Menurut Pato (2003) dadih mengandung protein tinggi 39,8% dengan kandungan asam amino esensial yang cukup lengkap, kalsium serta vitamin B dan K yang terbentuk selama proses fermentasi. Secara umum dadih mengandung protein dan lemak yang tinggi dengan kandungan protein rata-rata 6,75%.

Dadih asal Kabupaten Agam dan Solok, Sumbar mengandung protein dan lemak relatif lebih tinggi dibanding yogurt susu sapi sapi sehingga kadar proteinnya 4,08%, lemak 2,61 % (Sunarlim dan Setiyanto, 2001).

Dadih mengandung 16 jenis asam amino dari 22 asam amino yang ada di alam. Dengan demikian dadih mengandung berbagai jenis asam amino (esensial dan non esensial dalam jumlah yang cukup banyak) (Sughita dan Aidi, 1998).



Bambu Gombong (Gigantochioa verticilate) dan Bambu Ampel (Bambusa vulgaris)

Sayuti (1992) menyebutkan bahwa ada tiga hal pokok dalam proses pembuatan dadih yaitu persiapan bambu, pemerahan dan proses terjadinya dadih. Bambu yang digunakan adalah jenis bambu gombong (Gigantochioa verticilate) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris). Jenis bambu tersebut dipilih karena rasanya pahit sehingga tidak disukai semut. Selanjutnya dadih ditutup daun talas, daun pisang, plastik maupun tanpa penutup.

Bambu yang umum digunakan untuk pembuatan dadih adalah bambu gombong (Gigantochloa verticillata) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris) (Azria, 1986). Jenis bambu ini memiliki rasa pahit sehingga tidak disukai semut. Untuk menutup bambu biasanya digunakan daun talas, daun pisang, plastik atau bahkan dibiarkan tanpa penutup sesuai dengan kebiasaan masing-masing daerah (Suryono, 2003).

Bambu gombong mempunyai buluh berwarna hijau kekuning-kuningan dengan garis-garis kuning yang sejajar dengan buluhnya. Bambu ini memiliki keunggulan yaitu daya serap airnya tinggi. Bambu ampel merupakan bambu yang umumnya dimiliki oleh warga sehingga bambu ini juga sering dipakai dalam pembuatan dadih karena tidak perlu membeli. Selain itu, keunggulan dari kedua jenis bambu ini adalah keduanya memiliki rasa pahit sehingga dapat menghindarkan semut (Sayuti, 1992).

Mikroorganisme diduga dari permukaan tabung bambu bagian dalam, permukaan daun penutup, dan dari susu yang digunakan. Mikroorganisme tersebut adalah bakteri asam laktat (BAL). Dari beberapa penelitian diketahui bahwa dadih mengandung bakteri baik yaitu asam laktat (Lactobacilus casei) yang potensial sebagai probiotik. Asam laktat didalam dadih berperan dalam pembentukan tekstur dan cita rasa (Usmiati et al, 2011).


Fermentasi Pada Dadih

Fermentasi terjadi dengan mengandalkan mikroba yang ada di alam atau tanpa menggunakan starter tambahan (Rahman et al.,1992). Mikroba yang diisolasi dari dadih diperkirakan berasal dari daun pisang sebagai penutup, susu kerbau dan bambu pada saat disiapkan (Naiola, 1995). 
Fermentasi dalam pembuatan dadih mengandalkan jasad renik yang ada di alam sebagai inokulum. Mikroba tersebut diperkirakan berasal dari tabung bambu sebagai wadah (Zakaria et al, 1998), dapat juga dari daun pisang penutup tabung atau dari susu itu sendiri (Yudoamijoyo dkk., 1983).

Dadih berasal dari susu kerbau yang baru diperah langsung dimasukkan ke dalam tabung bambu dan ditutup menggunakan daun pisang atau plastik. Susu kerbau tersebut di fermentasi secara alami dalam suhu ruang selama 1-2 hari sampai terbentuk gumpalan. Masyarakat Sumatera Barat beranggapan bahwa hanya susu kerbau yang dapat dipakai sebagai bahan baku alami pembuatan dadih. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan di masyarakat sehubungan dengan keterbatasan susu kerbau yang meningkatkan terbatasnya, produksi dadih dan mahalnya harga dadih ( Surajudin, 2005).

Menurut Sirat (1993) dadih diperoleh dari susu kerbau yang difermentasikan secara alami yang diperkirakan berasal dari daun pisang sebagai penutup bambu dan susu itu sendiri (Yudoamijoyo et al., 1983), serta tabung bambu yang digunakan (Zakaria et al., 1999).

Proses fermentasi dilakukan pada suhu kamar selama 24-48 jam. Dadih berwarna putih dan bentuknya mirip tahu yang dapat dipotong. Dadih dikonsumsi langsung dengan memakai sendok ataupun diolah. Pada umumnya dadih dimanfaatkan sebagai lauk pauk, makanan selingan, pelengkap upacara adat dan sebagai obat-obatan tradisional (Sughita dan Aidi, 1998).




Dadih

Di Sumatera Barat, susu kerbau diolah menjadi dadih yang dimakan dengan gula aren. Cara membuat dadih adalah susu disimpan selama 2 hari dalam tabung bambu sampai serum susu dan gumpalan bekuan susu (dadih) terpisah. Di Aceh susu kerbau diolah menjadi minyak samin (mentega). Caranya susu didiamkan selama 24 jam dalam ember atau belanga untuk memisahkan kepala susu dengan serum susu. Kepala susu kemudian diuapkan airnya, sehingga diperoleh campuran lemak dan bekuan protein susu. Campuran ini kemudian disaring untuk dipisahkan lemak (mentega, minyak samin) dengan bekuan protein susu (Rukmana, 2003).

Dadih Sumatera Barat dibuat dengan bahan dasar susu kerbau dengan mengandalkan jasad renik yang ada di alam sebagai inokulan tanpa menggunakan starter tambahan. Para peternak melakukan pengolahan dadih seperti yang dilakukan secara turun menurun tanpa mengalami perbaikan teknik pengolahannya. Pada dasarnya dadih termasuk produk fermentasi seperti kefir dan yoghurt (Sirait et al., 1994).

Dadih merupakan susu fermentasi asli dari daerah Sumatera Barat berwarna putih dengan konsistensi agak kental menyerupai tahu. Dadih secara tradisional dibuat dari susu kerbau yang ditempatkan dalam bambu dan ditutup dengan daun pisang yang dilayukan dan dibiarkan terfermentasi secara alamiah pada suhu ruang selama 48 jam (Sugitha, 1995).

Dadih merupakan gumpalan susu kerbau yang tidak berubah atau pecah yang dihasilkan dengan memeram susu pada suhu kamar (27°C). Dadih berwarna putih seperti tahu dan dikonsumsi dengan menggunakan sendok. Menurut Sirat (1993), dadih yang baik berwarna putih dengan konsistensi menyerupai susu asam (yoghurt) dan beraroma khas susu asam. Secara Umum dadih mempunyai cita rasa yang khas asam dengan aroma perpaduan antara bambu dan susu, berwarna putih kekuningan dengan tekstur kental. Dadih yang disukai konsumen adalah berwarna putih, bertekstur lembut dengan aroma spesifik (Sisriyenni dan Zurriyati, 2004).

Menurut Sirait dan Setiyanto (1995), dadih yang bermutu baik pada umumnya adalah yang berwarna putih dengan konsistensi seperti susu asam yogurt) serta mempunyai bau yang khas. Mengandung protein lebih tinggi daripada Yoghurt. Protein merupakan salah satu komponen gizi yang tersusun dari asam amino yang dirangkai dengan ikatan peptida, dibutuhkan untuk pertumbuhan sel tubuh. Komponen yang komplek ini akan berdegradasi pada kondisi lingkungan yang cocok menjadi asam amino terkecil yang diutamakan (Fardiaz, 1992). Protein dalam dadih mempunyai daya cerna yang tinggi dibandingkan susu segar, hal ini disebabkan telah terdegradsi akibat proses fermentasi. Degradasi akan menyederhanakan molekul protein menjadi lebih mudah dicerna (Sugitha dan Aidi, 1998).

Proses pembuatan dadih susu kerbau yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Solok Sumatera Barat, ditemukan secara tidak sengaja. Masyarakat di wilayah tersebut umumnya mengkonsumsi susu kerbau dan menyimpannya dalam tempurung kelapa. Setelah dua hari susu menggumpal dan terdapat cairan berwarna kehijauan yang memisah (Sayuti, 1992).

Pengelolahan dadih pada umumnya masih dilakukan secara tradisional (Sirait,1993). Dadih yang diproduksi di Sumatera Barat menggunakan bahan dasar susu kerbau dengan mengandalkan jasad renik yang ada di alam sebagai inokulan atau tanpa menggunakan starter tambahan (Naiola, 1995).


Susu Kambing

Susu kambing telah dikenal sejak dahulu tetapi ketenaranya masih kalah dengan susu sapi. Jika dibandingkan susu sapi, susu kambing memiliki beberapa perbedaan dalam segi warna dan bentuk globular lemak. Susu kambing memiliki warna yang lebih putih dan globular lemak susu yang lebih kecil daripada susu sapi, sehingga dapat diminum oleh orang yang mengalami gangguan pencernaan, warna putih pada susu kambing berasal dari cahaya yang direfleksikan oleh globla-globula lemak (Blakely dan Bade, 1991).

Susu kambing adalah susu yang memiliki aroma yang khas dengan nilai gizi yang tinggi. Karakteristik susu kambing, yaitu warnanya lebih putih, globula lemak susunya lebih kecil, lemak susu kambing lebih mudah dicerna serta mengandung mineral, kalsium, vitamin A, E dan B kompleks yang lebih tinggi sehingga dapat dikonsumsi bagi orang yang alergi terhadap susu sapi karena tidak mengandung beta lactoglobulin yang bersifat allergen (Budiana dan Susanto, 2005)
Susu kambing di kenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing memiliki perbedaan karakteristik, yaitu warna lebih putih, lemaknya lebih mudah di cerna, card proteinnya lebih lunak sehingga memungkinkan untuk dibuat keju yang spesial, mengandung mineral (kalsium, fospor, vitamin A, dan vitamin B komplek) yang lebih tinggi, dan dapat diminum oleh orang yang alergi susu sapi dan oleh orang yang mengalami berbagai penyakit pencernaan (Blakely dan Bade, 1998).

Menurut Moelijanto et al., (2002), kandungan susu kambing lebih baik daripada kandungan susu sapi, karena komposisi kimiawinya hampir setara dengan air susu ibu (ASI). Susu kambing dalam 100 g mengandung protein 3,6 g, lemak 3,8 g dan berbagai vitamin serta mineral.

Teknologi pengolahan susu bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah, keamanan pangan, preferensi konsumen dan kegiatan agroindustri dibidang susu. Teknologi pengelolahan susu biasanya diawali dengan teknologi penanganan susu yang baik, sejak dari proses pemerahan hingga susu siap diolah untuk menjadi produk-produk yang bernilai gizi tinggi seperti olahan susu menjadi yoghurt atau dadih (Abu Bakar, 2011).


Susu Kerbau

Susu merupakan hasil sekresi kelenjar ambing (mamae) yang berasal dari pemerahan pada mamalia dan mengandung lemak, protein, laktosa serta berbagai jenis vitamin (Susilorini, 2006). Susu mengandung berbagai macam nutrisi penting seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin B, vitamin A dan vitamin D. Selain itu, susu juga merupakan sumber mineral dan kalsium (Varnam dan Sutherland, 1994). Mineral yang terdapat dalam air susu adalah Ca, P, Na, Zn, Mg, Cl, Fe, S, dan mineral essensial lainnya (Rahman et al., 1991).

Susu kerbau lebih banyak mengandung lemak dan protein dibandingkan susu sapi. Rasa susu kerbau lebih pekat karena mengandung lebih 16 % bahan kering (total solid) dibandingkan susu sapi yang hanya 12-14 %. Kadar lemak susu kerbau 50-60% lebih banyak dari susu sapi (6-8% vs 3-5%). Protein susu kerbau lebih banyak mengandung kasein, sedikit lebih albumin, dan globulin dari susu sapi (Sudono,1999).

Bahan-bahan dasar yang terdapat didalam susu kerbau antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Dari bahan dasar tersebut dapat dikembangkan bermacam-macam produk olahan susu yang mendasarkan pada ciri dan sifat bahan dasar tersebut. Selain hasil utama susu kerbau perah mempunyai hasil samping lainnya yakni gudel (keturunannya), kotoran dan daging setelah masa kehidupan produktifnya terlampaui (Mudgal, 1999).

Secara umum, komposisi susu kerbau sama dengan susu sapi dan ruminan lainnya, yakni air, protein, lemak, vitamin dan mineral, hanya saja dengan proporsi yang berbeda-beda. Susu kerbau umumnya lebih kaya lemak daripada susu sapi, sedangkan komponen gizi lainnya relatif sama. Meskipun demikian, susu kerbau memiliki ciri khas seperti ketiadaan karoten, sehingga membuat warna susu lebih putih daripada susu sapi (Murti, 2002).

Susu kerbau jauh lebih banyak mengandung lemak susu (butterfat) dari pada susu sapi, dimana kandungan lemaknya biasanya sampai 15 % dibawah kondisi pengelolahan yang baik. Susu kerbau dipakai untuk membuat makanan yang sama dengan makanan yang dibuat dari sapi seperti yogurht, manisan, ice cream dan berbagai tipe keju (Wiliamson dan Payne, 1993). Susu kerbau dapat diminum orang yang alergi minum susu sapi dan baik untuk orang yang mengalami gangguan sistem pencernaan.


Faktor Fisik Kimia Air

Parameter fisik dalam kualitas air merupakan parameter yang bersifat fisik, artinya dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa, sedangkan parameter kimia didefinisikan sebagai sekumpulan bahan/zat kimia yang keberadaannya dalam air mempengaruhi kualitas air. Faktor fisik kimia air diantaranya DO (oksigen terlarut), suhu, pH, amonia dan nitrit (Irawan et al. 2009).

Parameter kualitas air harus dijaga dan dikontrol dengan baik karena perubahan kualitas air secara langsung akan memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan. Perubahan kualitas air dapat menyebabkan nafsu makan ikan menurun sehingga daya tahan tubuh ikan menjadi lemah bahkan ikan dapat dengan mudah terserang penyakit dan mati. Selain kualitas air dan kondisi lingkungan, kualitas pakan yang diberikan pada ikan juga dapat memberikan pengaruh bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam lingkungan perairan dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Apabila suhu mengalami kenaikan akan meningkatkan laju pertumbuhan sampai batas tertentu, dan kenaikan suhu justru menurunkan laju pertumbuhan (Rahardjo et al. 2010). Menurut Kordi (2000), perubahan suhu sebesar 5 derajat selsius di atas normal dapat menyebabkan stres pada ikan bahkan kerusakan jaringan dan kematian.

Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan ikan. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dan dapat menekan kehidupan ikan bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrim (drastis). Kisaran suhu optimum bagi kehidupan ikan adalah 25-280C. Bila suhu rendah ikan akan kehilangan nafsu makan, sebaliknya bila suhu terlalu tinggi ikan akan stres bahkan mati kekurangan oksigen. Baik suhu rendah maupun terlalu tinggi dapat membahayakan ikan, karena beberapa patogen berkembang baik pada suhu tersebut (Kordi, 2004).

Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam ekosistem air, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Pada ekosistem air tawar, pengaruh temperatur menjadi sangat dominan (Barus, 2004). Menurut Watten (1994) dalam Hapsari (2001) mengatakan bahwa oksigen terlarut merupakan parameter kualitas air yang merupakan faktor pembatas pada sistem tertutup dan semi tertutup. Stickney (2000) dalam Hapsari (2001) mengatakan bahwa respirasi merupakan proses fisiologi normal dari ikan. Menurut Stickney (2000) dalam Hapsari (2001) kelarutan oksigen dalam air tergantung dari berbagai faktor diantaranya adalah suhu, salinitas dan ketinggian. Untuk lingkungan air tawar oksigen terlarut tergantung pada suhu dan ketinggian, sedangkan pada lingkungan air laut oksigen terlarut tergantung pada salinitas dan suhu. Menurut Forteath (1993) dalam Husin (2001) mengatakan bahwa bakteri nitrifikasi merupakan bakteri aerob yang tidak bisa mengoksidasi amonia jika kandungan oksigen terlarut (DO) kurang dari 2 mg/L. Berikut ini Tabel Pengaruh Konsentrasi Oksigen Terlarut Terhadap Ikan.

Kandungan Oksigen Terlarut (Mg/L)
Pengaruh Terhadap Ikan
<1 o:p="">
Letal atau menyababkan kematian dalam beberapa jam.
1-5
Ikan dapat bertahan akan tetapi pertumbuhan dan reproduksi terhambat.
>5
Ikan dapat tumbuh dan bereproduksi secara normal.
(Boyd, 1990 dalam Hapsari, 2001).

Derajat keasaman (pH) merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar asam/basa dalam air. Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion hydrogen di dalam suatu larutan. Organisme air dapat hidup dalam suatu perairan mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai dengan basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air antara 7 sampai 8,5 (Barus, 2004). Berdasarkan Boyd (1990) dalam Husin (2001), jaringan merupakan target organ utama akibat stres asam. Ketika ikan berada pada pH rendah, peningkatan lendir akan terlihat pada permukaan insang. Begitu juga pada pH tinggi, dimana insang ikan sangat sensitive dan berbahaya bagi mata ikan. Akumulasi bahan kimia dalam sistem resirkulasi menyebabkan pH mengalami depresi (asam), kecuali kalau sistem adalah buffer sehingga pH dapat stabil. Pada saat air lebih asam, stress pada ikan budidaya terjadi dan jika pH. Nilai pH air mempunyai efek yang sangat besar pada kesehatan organisme akuatik yang ada dalam sistem resirkulasi (Forteath et al., dalam Husin 2001).

Dari semua parameter kualitas air yang mempengaruhi ikan, amonia adalah yang paling penting setelah oksigen, terutama dalam sistem yang intensif. Amonia menyebabkan stress dan bahkan kerusakan inang dan jaringan lain, termasuk dalam jumlah yang kecil. Amonia mudah terakumulasi dalam sistem perairan karena merupakan produk samping dari metabolisme ikan. Keseimbangan dari amonium dan amoniak di dalam air sangat dipengaruhi oleh nilai dari pH (Barus, 2002). Sumber ammonia di perairan adalah hasil pemecahan nitrogen (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan juga di dalam air (Effendi, 2002). Ammonia (NH3) adalah hasil utama dari penguraian protein yang merupakan racun bagi ikan, karena itu kandungan NH3 perairan dianjurkan tidak lebih dari 1 ppm (Sundari, 2002).

Amonium dilepaskan ke dalam air oleh penguraian organik dan juga sebagai buangan metabolik organisme perairan (Syukri, 2011). Konsentrasi beracun amoniak terhadap ikan air tawar berkisar antara 0,7-0,4 mg/L (Boyd 1990 dalam Amrial 2009). Amonia dihasilkan oleh pemupukan, ekskresi ikan dan dekomposisi mikrobial dari komponen nitrogen (Boyd 1982 dalam Hapsari 2001). Menurut Zonneveld et al.,(1991) menyatakan bahwa Amonia merupakan hasil akhir metabolisme protein dan amonia dalam bentuk yang tidak terionisasi (NH3) merupakan racun bagi ikan sekalipun pada konsentrasi yang rendah. Menurut Forteath (1993) dalam Hapsari (2001) amonia total terdiri dari amonia (NH3) dan ion ammonium (NH4+), pada umumnya amonia yang berbentuk NH3lebih bersifat racun bagi kehidupan ikan. Kadar amonia di dalam air baik dalam bentuk NH3 ataupun dalam bentuk NH4+ tergantung dari besarnya pH di dalam perairan. Air yang memiliki pH rendah mampunyai kandungan H+ yang tinggi sehingga kandungan amonia dalam bentuk NH4+ akan lebih banyak dibandingkan dengan kandungan NH3 yang lebih bersifat toksik bagi ikan, jika pH berada di atas 7,2 maka kandungan H+ menurun dan kosentrasi amonia dalam bentuk NH3 akan meningkat (Forteath 1993 dalam Hapsari 2001). Amonia dalam bentuk total (NH3-N) merupakan amonia nitrogen dalam bentuk tidak terionisasi danpada umumnya konsentrasi total amonia di lingkungan yang dapat ditoleransi oleh ikan berada di bawah 0,5 mg/L. Amonia yang tinggi akan mempengaruhi permeabilitas ikan terhadap air dan menurunkan konsentrasi ion dalam dalam tubuh, sehingga meningkatkan konsumsi oksigen pada jaringan dan mengakibatkan kerusakan pada insang serta mengurangi kemampuan darah dalam mentrasportasi oksigen (Boyd 1982 dalam Hapsari 2001). Keberadaan amonia mempengaruhi pertumbuhan, karena mereduksi masuknya oksigen yang disebabkan rusaknya insang, sehingga menambah energi untuk keperluan detoksifikasi, mengganggu osmoregulasi dan mengakibatkan kerusakan fisik pada jaringan (Tucker dan Hargreaves 2004 dalam Amrial 2009).

Nitrat merupakan suatu unsur penting dalam sintesa protein tumbuhan, namun pada badan perairan yang memiliki jumlah nitrat yang berlebih akan menyebabkan kurangnya oksigen terlarut di perairan dan nitrit merupakan suatu tahapan sementara dari proses oksidasi antara amonium dan nitrat yang dapat terjadi pada badan-badan perairan (Fachrul, 2007). Kadar nitrit yang lebih dari 0.05 mg/L bersifat toksik bagi organism perairan (Effendi, 2003).

Fosfat merupakan unsur yang sangat esensial sebagai bahan nutrient bagi berbagai organisme akuatik. Fosfor merupakan salah satu nutrisi utama yang sangat penting dalam pertumbuhan. Fosfor ditemukan sebagai fosfat dalam beberapa mineral dan dalam pertukaran energi dari organism yang sangat dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrien) sehingga fosfor disebut sebagai faktor pembatas bagi pertumbuhan organisme (Barus, 2004). Fosfat di dalam air sebagai ortofosfat. Ortofosfat merupakan bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan secara langsung, bereda dengan polifosfat yang harus terlebih dahulu mengalami (Effendie, 2002).

Ekosistem air fosfor terdapat dalam tiga bentuk yaitu senyawa fosfat anorganik yaitu ortofosfat, senyawa organik dalam protoplasma dan sebagai senyawa organik terlarut yang terbentuk dari proses penguraian tubuh organisme. Fosfor berasal terutama dari sedimen yang selanjutnya akan terinfiltrasi ke dalam air tanah dan akhirnya masuk ke dalam sistem perairan terbuka (Barus, 2004).


Pakan Ikan

Ikan membutuhkan zat gizi tertentu untuk kehidupannya, yaitu untuk menghasilkan tenaga, menggantikan sel-sel yang rusak dan untuk tumbuh. Zat gizi yang dibutuhkan adalah : protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air. Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga. Protein nabati (asal tumbuh-tumbuhan), lebih sulit dicernakan daripada protein hewani (asal hewan), hal ini disebabkan karena protein nabati terbungkus dalam dinding selulosa yang memang sukar dicerna. Pada umumnya, ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan-hewan ternak di darat (unggas dan mamalia). Selain itu, jenis dan umur ikan juga berpengaruh pada kebutuhan protein. Ikan karnivora membutuhkan protein yang lebih banyak daripada ikan herbivora, sedangkan ikan omnivora berada diantara keduanya. Pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 20 – 60%, dan optimum 30 – 36% (http://www.smallcrab.com).

Kandungan lemak sangat dipengaruhi oleh faktor ukuran ikan, kondisi lingkungan dan adanya sumber tenaga lain. Kebutuhan ikan akan lemak bervariasi antara 4 – 18%. Kadar karbohidrat dalam pakan ikan, dapat berkisar antara 10 – 50%. Ikan karnivora biasanya membutuhkan karbohidrat sekitar 12%, sedangkan untuk omnivora kadar karbohidratnya dapat mencapai 50%. Vitamin juga penting bagi pertumbuhan ikan untuk itu suplai vitamin harus kontinyu. Kebutuhan akan vitamin dipengaruhi oleh ukuran ikan, umur, kondisi lingkungan dan suhu air (Warintek, 2010).

Ikan pemeliharaan mengkonsumsi pakan buatan yang disuplai dari pabrik pakan. Dengan demikian, sebagian besar biaya operasional budidaya ikan adalah biaya pakan. Karena itu, hubungan antara jumlah pakan yang dimakan dan pertumbuhan perlu diukur untuk menentukan apakah pakan tersebut cocok untuk pertumbuhan ikan atau tidak. Jika selama periode pemberian pakan, tidak diperlihatkan perubahan pertumbuhan yang berarti maka jenis pakan yang diberikan perlu dipertimbangkan (Fujaya, 2004).

Pemilihan bahan baku pakan ikan tergantung pada kandungan bahan gizinya; kecernaannya (digestibility) dan daya serap (bioavailability) ikan; tidak mengandung anti nutrisi dan zat racun; tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah. Tujuan pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi untuk kesehatan yang baik (Warintek, 2010). Jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan secara umum berkisar antara 5-10% dari bobot tubuhnya (Mudjiman, 1984). Dengan demikian sangat penting sekali untuk memperhatikan formulasi dari pakan yang akan diberikan kepada induk. Selama masa pemeliharaan induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein antara 28-30% dan lemak sekitar 7%. Pakan diberikan sebanyak 2-3% bobot badan/hari (Cholik. dkk, 2005). Pemberian pakan pada ikan dilakukan sebanyak tiga kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari sedangkan pergantian air dilakukan setiap hari dengan cara menyipon atau membuang kotoran dan sisa-sisa pakan yang tidak termakan (Suharno, 2003).


Pertumbuhan Ikan

Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses biologis yang kompleks dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dalam individu ialah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis (Effendie, 2002). Pertumbuhan juga dipengaruhi oleh banyak faktor yang merupakan faktor internal maupun faktor eksternal ikan. Pertumbuhan merupakan parameter yang mempunyai nilai ekonomi penting dalam budidaya. Parameter ini mudah diukur sebagai bobot, panjang atau lingkaran pertumbuhan pada sisik. Ikan-ikan yang berumur muda lebih cepat pertumbuhan panjangnya dari ikan-ikan yang berumur tua (Effendie, 1997).

Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi faktor genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan dan penyakit (Irawan et al. 2009).

Makanan merupakan salah satu faktor yang daat menunjang dalam perkembangbiakan ikan baik ikan air tawar, ikan air payau maupun ikan air laut. Pertumbuhan ikan yang baik membutuhkan sejumlah pakan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya. Ikan dalam pertumbuhan dan perkembangbiakannya memerlukan makanan baik makanan alami maupun makanan buatan Ikan yang hidup di alam bebas (sungai) mengandalkan makanan alami (Effendie, 1997).

Tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan digunakan untuk pertumbuhan. Sebagian besar energi dari makanan digunakan untuk pemeliharaan dan sisanya digunakan untuk aktivitas, pertumbuhan, dan reproduksi. Ikan muda yang sedang tumbuh lebih banyak menggunakan energi dibandingkan ikan dewasa, karena energi dibutuhkan tidak saja untuk aktivitas dan pemeliharaan, tetapi juga untuk pertumbuhan (Fujaya, 2004).

Pada beberapa organisme, suplai makanan dan oksigen tergantung pada difusi permukaan sedangkan rasio permukaan dan seiring itu juga terjadi penurunan volume. Jika terjadi pertambahan ukuran badan menjadi dua kali lipat, maka rasio permukaan dan volume mnjadi setengahnya dan dengan demikian penggunaan energi berkurang, yang ditandai dengan pengurangan konsumsi oksigen per mg berat badan (Fujaya, 2004).

Faktor-faktor kimia perairan dalam keadaan ekstrim mempunyai pengaruh hebat terhadap pertumbuhan, bahkan dapat menyebabkan fatal. Diantaranya adalah oksigen, karbon dioksida, hydrogen sulfide, keasaman dan alkalinitas, dimana pada akhirnya akan mempengaruhi terhadap makanan (Effendi, 2002).

Faktor panjang, jenis kelamin, makanan, tingkat kematangan gonad dan umur ikan saling berkorelasi. Perhitungan dari faktor ini didasarkan pada panjang dan berat ikan, sehingga dapat digunakan sebagai indikator bagi pertumbuhan ikan perairan (Effendie, 2002).

Pendugaan pertumbuhan ikan dapat diduga dengan menganalisis data frekuensi panjang atau bobot, dimana pertumbuhan ikan ada setiap umur berbeda. Ikan muda memiliki pertumbuhan yang cepat sedangkan akan terhenti pada saat mencapai panjang maksimal. Pertambahan baik dalam bentuk panjang maupun berat biasanya diukur dalam waktu tertentu. Hubungan pertumbuhan dengan waktu bila digambarkan dalam suatu sistem koordinat menghasilkan suatu diagram yang lebih dikenal dengan kurva pertumbuhan (Effendie, 1997).

Menurut Effendie (2002), jika dilihat dari hubungan panjang dan bobot tubuh ikan, maka pada pertumbuhan ikan dapat dibagi atas 3 pola pertumbuhan:
1. Bila harga koefisien regresinya lebih kecil dari tiga, maka pertumbuhan panjang
ikan tersebut lebih cepat dari pertumbuhan bobotnya sehingga disebut Allometrik negatif.
2. Bila harga koefisien regresinya sama dengan tiga, maka pertumbuhan panjang
ikan tersebut sama dengan pertumbuhan bobotnya sehingga disebut Isometrik.
3. Bila harga koefisien regresinya lebih besar dari tiga, maka pertumbuhan bobot
ikan tersebut lebih cepat dari pertumbuhan panjangnya sehingga disebut Allometrik positif.


Back To Top