Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Parameter Kualitas Air untuk Usaha Kolam Ikan

Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses metabolisme organisme di perairan. Perubahan suhu yang mendadak atau kejadian suhu yang ekstrim akan mengganggu kehidupan organisme bahkan dapat menyebabkan kematian. Suhu perairan dapat mengalami perubahan sesuai dengan musim, letak lintang suatu wilayah, ketinggian dari permukaan laut, letak tempat terhadap garis edar matahari, waktu pengukuran dan kedalaman air. Suhu air mempunyai peranan dalam mengatur kehidupan biota perairan, terutama dalam proses metabolisme (Silalahi, 2009).

Suhu sangat mempengaruhi nafsu makan ikan sehingga berpengaruh terhadap metabolisme pertumbuhan. Kenaikan suhu yang masih dapat diterima ikan, akan diikuti kenaikan derajat metabolisme dan selanjutnya kebutuhan oksigen akan naik pula. Hal ini sesuai dengan hukum Van Hoff yang menyatakan bahwa untuk setiap perubahan kimiawi, kecepatan reaksinya naik dua sampai tiga kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10o C. Namun, kenaikan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba (Effendi, 2003).

Oksigen Terlarut (DO)
Pengaruh oksigen terlarut terhadap fisiologis organisme air terutama adalah dalam proses respirasi. Konsentrasi oksigen terlarut hanya berpengaruh secara nyata terhadap organisme air yang memang mutlak membutuhkan oksigen terlarut untuk respirasinya. Konsumsi oksigen bagi organisme air berfluktuasi mengikuti proses-proses hidup yang dilaluinya. Pada umumnya konsumsi oksigen bagi organisme air ini akan mencapai maksimum pada masa-masa reproduksi berlangsung. Konsumsi oksigen juga dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen terlarut itu sendiri (Barus, 2004).  

Tingkat konsumsi oksigen organisme air sangat bergantung pada suhu, bobot tubuh, fitoplankton, dan bakteri yang ada di dalam perairan. Akumulasi buangan padat akan meningkatkan biomasa bakteri heterotrofik, sehingga meningkatkan kebutuhan oksigen. Kadar oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan organisme akuatik adalah lebih dari 3.5 mg/liter, sedangkan konsentrasi oksigen terlarut kurang dari 1.5 mg/liter dalam jangka waktu yang lama dapat bersifat lethal bagi organisme akuatik. (Effendi, 2003).

Derajat Keasaman (pH)
pH adalah banyaknya ion hidrogen yang terkandung di dalam air. Tinggi rendahnya pH air sangat ditentukan oleh konsentrasi H+ yang terdapat dalam perairan. Setiap organisme mempunyai pH optimum untuk kehidupannya. Nilai pH perairan merupakan salah satu faktor lingkungan yang berhubungan dengan susunan spesies dari ikan (Radhiyufa, 2011).


Keasaman air (pH) mempengaruhi tingkat kesuburan perairan. Perairan yang terlalu asam akan kurang produktif. Pada perairan yang banyak sampah ogranik terkomposisi dapat ditemukan pH rendah.Kehidupan hewan akuatik semakin terganggu apabila pH air makin jauh dari titik normal. Sebagian besar organisme air bisa beradaptasi dengan nilai pH yang bervariasi namun tidak mudah bertahan dengan perubahan secara tiba-tiba dengan variasi yang besar (Yumame, dkk., 2013).

Penyakit Bakterial pada Ikan

Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan ganguan baik fisik maupun fisiologis pada ikan. Gangguan ini dapat disebabkan oleh organisme lain, kondisi lingkungan atau campur tangan manusia. Sakit adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan atau ketidaknormalan fungsi pada ikan baik secara fisik ataupun fisiologis. Sakit dan penyakit ini dapat disebabkan oleh ketidakserasian yang terjadi di dalam lingkungan atau ekosistem dimana ikan tersebut berada. Dengan kata lain penyakit merupakan interaksi yang tidak serasi antara ikan dengan faktor biotik (organisme) dan faktor abiotik (lingkungan). Interaksi yang tidak serasi ini akan menimbulkan stress pada ikan sehingga menyebabkan daya pertahanan tubuh menurun dan akibatnya mudah timbul berbagai penyakit (Yuliartati, 2011).

Penyakit meliputi penyakit infeksi dan bukan infeksi. Penyakit infeksi merupakan masalah utama, meliputi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, fungi dan parasit. Penyakit pada hewan perairan dapat disebabkan oleh cacat genetis, cidera fisik, ketidak-seimbangan nutrient, pathogen dan atau polusi. Penularan patogen atau penyakit dari satu individu ke individu lainnya dapat melalui dua cara yaitu penularan vertikal dan horizontal. Penularan vertikal yaitu patogen ditularkan dari salah satu atau kedu induknya ke anakknya melalui sel kelamin. Adapun penularan horizontal meliputi penularan patogen dari individu satu ke lainnya (Irianto, 2005).

Kualitas air merupakan salah satu penyebab terjadinya serangan penyakit, misalnya meningkatnya suhu secara mendadak membuat ikan stress. Lingkungan di dalam air merupakan habitat kompleks terdapat berbagai jasad patogen, tetapi jasad patogen ini tidak berbahaya bila kondisi lingkungan optimum. Jasad penyakit yang telah ada di dalam air akan berbahaya bila kondisi memungkinkan, seperti perubahan parameternya (Kordi, 2004).

Stres berpengaruh terhadap sistem perlindungan tubuh inang yaitu mukus. Segala bentuk stress akan menyebabkan perubahan-perubahan kimiawi dalam mucus yang dapat menyebabkan penurunan efektivitannya sebagai pelindung kimiawi inang terhadap patogen dan parasit. Stress akan mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh (Na, K dan Cl) sehingga menyebabkan penyerapan air yang berlebihan atau dapat pula berupa kehilangan air (dehidrasi) (Irianto, 2005).

Ikan yang kekurangan gizi juga merupakan sumber dan penyebab penyakit. Pakan yang kandungan proteinnya rendah akan mengurangi laju pertumbuhan, proses reproduksi kurang sempurna, dan dapat menyebabkan ikan menjadi mudah terserang penyakit. Pakan yang tidak seimbang atau komponennya berlebihan dapat juga menimbulkan masalah.Kondisi yang membuat ikan tidak normal tersebut, menyebabkan ketahanan tubuh ikan yang menurun (Kordi, 2004).

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri memperlihatkan gejala-gejala seperti kehilangan nafsu makan, luka-luka pada permukaan tubuh, pendarahan pada insang, perut membesar berisi cairan, sisik lepas, sirip ekor lepas, jika dilakukan pembedahan akan terlihat pembengkakan dan kerusakan pada hati, ginjal dan limpa. Penyakit bakteri ini dapat menyebabkan kematian diatas 80% dalam waktu relatif singkat (Ashari, dkk., 2014).
Di Indonesia sedikitnya telah tercatat empat kali wabah penyakit ikan, baik yang disebabkan oleh parasit maupun bakteri. Wabah penyakit menyebabkan terjadinya kematian pada ikan secaraakut maupun kronis sehingga secara ekonomis ikan menjadi tidak laku dipasarkan karena penampilannya yang buruk, berbahaya bagi kesehatan manusia serta memperkecil laba usaha karena pertumbuhan ikan menjadi lambat. Bakteri lain yang diketahui merugikan dalam budidaya ikan antara lain Edwardsiella tarda, Flexibactercolumnaris, Pseudomonas fluorescens, Aeromonas sp., Vibrio sp., Myobacterium sp., Nocardia sp. (Ratnawati, dkk., 2013)

Kocuria kristinae
K. kristinae sebelumnya disebut Micrococcus kristinae pertama kali dijelaskan pada 1974. Organisme ini ditemukan tersebar luas di alam, sering sebagai flora kulit normal pada manusia dan mamalia lainnya. Hal ini biasanya non-patogenik. Ada sangat sedikit kasus yang terdokumentasi dengan infeksi yang disebabkan oleh K. kristinae. Dari jumlah tersebut mayoritas terjadi pada pasien dengan system imun rendah. Hal itu sebelumnya diklasifikasikan ke dalam genus Micrococcus, tapi dibedah dari Micrococcus berdasarkan analisis filogenetik dan kemotaksonomi (Paul, dkk., 2015).

Stenotrophomonas maltophilia
S. maltophilia, non-fermentasi, Gram-negatif, bakteri berbentuk batang berlimpah di lingkungan dengan distribusi geografis yang luas. spesies bakteri ini telah diisolasi dari sumber air, baik dalam dan keluar dari pengaturan klinis. Infeksi yang disebabkan oleh S. maltophilia memiliki tingkat kematian tinggi (37,5%), tergantung pada kondisi klinis awal pasien. Selama dekade terakhir, S. maltophilia telah muncul sebagai patogen nosokomial penting terutama pada pasien dengan fibrosis kistik, keganasan, neutropenia, kateter vena sentral, panjang berkepanjangan tinggal atau riwayat pengobatan penggunaan antibiotik spektrum luas (Trevino, dkk., 2014).

Aeromonas hydrophila
A. hydrophila merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang, motil. Merupakan agensia penyebab hemoragik septicemia (Bacterial Hemorrhagic Septicemia, BHS) atau MAS (Motile Aeromonas Seprticaemia) pada beragam spesies ikan air tawar. Pada dasarnya A. hydrophila merupakan oportunis karena penyakit yang disebabkannya mewabah pada ikan-ikan yang mengalami stress atau pada pemeliharaan dengan padat tebar tinggi (Irianto, 2005).

Salah satu patogen pada ikan nila adalah bakteri A. hydrophila yang menyebabkan penyakit Motile Aeromonad Septicacma (MAS). Selain itu Aeromonas salmonicida atipikal merupakan penyebab penyakit pada sejumlah spesies ikan air tawar danikan laut non-salmonoid. Penyebaran atau invasi bakteri patogen di dalam tubuh dapat menyebabkan rusaknya jaringan danorgan. Setelah Aeromonas masuk ke dalam tubuh, bakteri ini akan menembus masuk ke dalam organ pembuluh darah dan akhirnya terbawa masuk ke organ tubuh. Kerusakan yang parah pada ginjal ikan dapat meningkatkan jumlah angka kuman ginjal (Nursanti, dkk., 2006).

A. hydrophila melimpah pada lingkungan air tawar terutama dengan kandungan bahan organik yang tinggi dan dapat menyerang berbagai jenis ikan air tawar di daerah tropis. Infeksi biasanya bersifat oportunistik dan mudah dikenali karena adanya luka-luka eksternal (ulcer), lendir mengering, terdapat bercak pendarahan pada daerah latero-ventral tubuh dan sirip serta sisik terkelupas (Putri, dkk., 2008).

Staphylococcus sp.
Bakteri bentuk coccus seperti Streptococcus sp. dan Staphylococcus sp. telah banyak ditemukan pada ikan sakit. Kebanyakan kedua spesies tersebut hidup sebagai saprofitik dan beberapa sebagai mikrofolra normal di dalam saluran pencernaan hewan dan berikutnya dilepaskan bersama dengan feses. Keberadaanya di lingkungan akuatik biasanya sebagai indikator kontaminasi feses terhadap air. Staphylococcus sp. bukan merupakan penyebab utama sebagai penyakit dalam perikanan di Amerika, tetapi sebagai penyebab utama kerugian petani ikan di Jepang dan negara-negara timur jauh (Pelczar dan Reid, 1958). Infeksi Staphylococcus sp. pada ikan jarang terjadi, walaupun demikian pernah diisolasi dari darah jantung pada ikan salmon sakit di Argentina. Staphylococcus sp. menyebabkan beberapa lesi berupa nekrosis dan edema di muskulus serta adanya timbunan darah pada cavitas vaseralis (Sutrisno dan Purwandari, 2004).


Bakteri

Bakteri merupakan mikroorganisme bersel satu, tidak berklorofil, berkembang biak dengan membelah diri, dan ukurannya sangat kecil. Bakteri termasuk ke dalam golongan prokariot dengan dinding sel yang kompleks. Di sebelah luar dinding sel terdapat selubung atau kapsul. Di dalam bakteri tidak terdapat membran dalam (endomembran) dan organel bermembran seperti kloroplas dan mitokondria (Perdana, 2011).

Bakteri memiliki keragaman morfologi, ekologi dan fisiologis tinggi. Rentang lingkungan hidup bakteri sangat luas, mulai lingkungan yang sangat dingin di perairan Artik hingga lingkungan sangat panas seperti celah hidrotermal (hydrothermal vents) yang dapat mencapai suhu 100 o C, hingga saat ini baru sekitar 1% dari total bakteri di alam yang sudah dikenal. Di alam bakteri dapat bersifat saprofitik, fotosintetik, ototrofik, atau parasitik. Secara umum bakteri berkembang biak dengan pembelahan transfersal atau biner (Irianto, 2005).

Berdasarkan reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan warna gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi bakteri gram negatif (terlihat berwarna pink atau merah) dan bakteri gram positif (terlihat berwarna biru). Kebanyakan bakteri pathogen ikan termasuk golongan gram negatif, seperti Aeromonas, Vibrio, dan Flexibacter. Bakteri dapat juga diklasifikasikan berdasarkan ukuran, kemampuan gerak, sifat koloni, reaksi fermentasi karbohidrat, pertumbuhan dalam media selektif. Bakteri yang mampu menyebabkan penyakit pada ikan (patogen) hampir selalu terdapat di air kolam, tambak atau di perairan umum dan laut, dipermukaan tubuh ikan dan pada bagian dalam tubuh ikan (usus atau organ dalam lainnya) (Kordi, 2004).




Isolasi dan Identifikasi Bakteri

Untuk mengidentifikasi suatu jenis mikrobia perlu dilakukan isolasi untuk memperoleh biakan murni. Setiap koloni yang berlainan mewakili macam mikrobia yang berbeda sehingga hal ini dapat digunakan untuk melakukan isolasi suatu mikrobia. Untuk mengisolasi mikrobia di bawah kondisi laboratorium perlu disediakan nutrien dan kondisi fisik yang akan memenuhi persyaratan tipe mikrobia tertentu yang sedang ditelaah. Sejalan dengan hal tersebut, berbagai macam medium digunakan di dalam mikrobiologi, dikombinasikan dengan berbagai kondisi fisik untuk inkubasi (Priharta, 2008).

Bakteri dapat ditumbuhkan dalam suatu medium agar dan akan membentuk penampakan berupa koloni. Koloni sel bakteri merupakan sekelompok massa sel yang dapat dilihat dengan mata langsung. Penampakan koloni bakteri dalam media lempeng agar menunjukkan bentuk dan ukuran koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan penampakan koloni, tepi dan permukaan koloni. Koloni bakteri dapat berbentuk bulat, tak beraturan dengan permukaan cembung, cekung atau datar serta tepi koloni rata atau bergelombang (Lisdayanti, 2013).

Secara umum didasarkan pada sifat dinding selnya, bakteri terdiri dari dua kelompok yaitu bakteri Gram positif dan negatif. Berdasarkan kebutuhan akan oksigen, dikenal bakteri anaerobik, fakultatif anaerobik, mikroaerofilik dan aerobik. Pada beberapa spesies bakteri bentuk batang, pada selnya terdapat alat bantu pelekatan (hild fast) yang mendukung pembentukan pola-pola kelompok sel yang teratur (Irianto, 2005).

Pada identifikasi mikrobia mula-mula diamati morfologi individual secara mikroskopik dan pertumbuhannya pada berbagai medium. Karena suatu bakteri tidak dapat dideterminasi hanya berdasar sifat-sifat morfologinya saja, maka perlu diteliti pula sifat-sifat biokimia dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Mikrobia yang morfologinya sama mungkin berbeda dalam kebutuhan nutrisi serta persyaratan ekologi lainnya (suhu, pH, dan sebagainya). Patogenesis mikrobia patogen dapat dipakai untuk membantu identifikasi dan determinasi bakteri tersebut. Apabila suatu bakteri memiliki sifat yang hampir sama (terutama yang patogen), maka perlu diselidiki sifat ekologinya (Priharta, 2008).


Interaksi Antara Inang, Patogen dan Lingkungan

Timbulnya penyakit adalah suatu proses yang dinamis dan merupakan interaksi antara inang (host), jasad penyakit (patogen) dan lingkungan. Dalam kegiatan budidaya ikan, apabila hubungan ketiga faktor adalah seimbang sehingga tidak timbul adanya penyakit. Penyakit akan muncul jika lingkungan kurang optimal dan keseimbangan terganggu. Secara umum, timbulnya penyakit pada ikan merupakan hasil interaksi yang kompleks antara 3 komponen dalam ekosistem budidaya yaitu inang (ikan) yang lemah akibat berbagai stressor, patogen yang virulen dan kualitas lingkungan yang kurang optimal. Ketiga komponen tersebut dalam bentuk lingkaran yang akan saling berinteraksi satu sama lain (Sarjito, dkk., 2013).

Lingkungan mengandung beranekaragam bakteri dalam jumlah yang berbeda-beda. Keadaan lingkungan menentukan jumlah dan spesies bakteri yang dominan di lingkungan tersebut. Kualitas air merupakan salah satu penyebab terjadinya serangan penyakit, misalnya meningkatnya suhu secara mendadak membuat ikan stress. Lingkungan di dalam air merupakan habitat kompleks terdapat berbagai jasad patogen, tetapi jasad patogen ini tidak berbahaya bila kondisi lingkungan optimum. Jasad penyakit yang telah ada di dalam air akan berbahaya bila kondisi memungkinkan, seperti perubahan parameternya (Kordi, 2004).





Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Ikan nila (O. niloticus) di Indonesia pertama kali di datangkan dari Taiwan pada tahun 1969, merupakan salah satu ikan budidaya air tawar yang mempunyai prospek yang baik, karena ikan nila memiliki sifat yang menguntungkan, antara lain mudah berkembang biak, pertumbuhannya relatif cepat dan toleran terhadap kondisi lingkungan perairan yang kurang baik. Usaha budidaya ikan nila yang berkembang secara intensif menyebabkan munculnya perubahan lingkungan lahan budidaya akibat tingginya pencemaran dan kesalahan penanganan budidaya antara lain kurang efisiennya penggunaan pakan sehingga memicu timbulnya masalah penyakit (Rustikawati, 2012).

Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki ciri-ciri bentuk tubuh panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Ikan nila tergolong ikan pemakan segala atau omnivora. Masalah yang dihadapi pada budidaya ikan nila antara lain penyakit infeksi bakteri (Nursanti, dkk., 2006).

Klasifikasi ikan nila (O. niloticus) menurut Pujiastuti (2015) adalahsebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Osteichtyes
Ordo : Percomorphi
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreoch romis niloticus

Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan yang sudah umum dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga perlu diupayakan pemanfaatan dan pengelolaannnya. Sejalan dengan perkembangan usaha budidaya, terdapat pula beberapa masalah yang menganggu seperti hama dan penyakit sehingga menghambat perkembangan usaha budidaya. Masalah penyakit biasanya merupakan kendala utama karena dapat merugikan usaha budidaya seperti kematian total, penurunan produksi dan penurunan kualitas air (Tantu, dkk., 2013).




Bagian Non Karkas Ternak Kelinci

Non karkas merupakan hasil pemotongan ternak selain karkas dan lazim disebut offal. Non karkas terdiri dari bagian yang layak (offal edible) dan tidak layak dimakan (offal non edible). Hasil pemotongan ternak selain karkas adalah bagian non karkas. Non Karkas terdiri dari bagian yang layak dimakan yaitu lidah, jantung, hati, paru-paru, otak, kulit, ekor, saluran pencernaan, ginjal dan limpa, sedangkan tanduk, kuku, darah, tulang atau kepala termasuk bagian yang tidak layak dimakan (Soeparno,1994).

Komponen sisa karkas terdiri dari organ internal dan organ eksternal. Organ internal terdiri atas hati, jantung, paru-paru, sedangkan yang termasuk organ eksternal adalah kepala, kulit dan kaki (Whytes dan Ramsay, 1979).

Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang bagian non karkas.Persentase karkas diperoleh dengan membandingkan bobot karkas dengan bobotpotong, sedangkan persentase non karkas diperoleh dengan membandingkanbobot non karkas dengan bobot potong. Penimbangan non karkas dilakukan untukmasing-masing komponen yaitu kepala, darah, organ-organ dalam kecuali ginjal, keempat kaki bagian bawah, ekor, kulit dan bulu (Purbowati et al., 2005).

Persentase non karkas merupakan angka banding antara berat non karkas (darah, kepala, keempat kaki, ekor,dan jeroan) dengan berat potong kelinci yang bersangkutan kemudian dikalikan 100 persen. Persentase non karkas berbanding terbalik dengan persentase karkas. Semakin tinggi persentase non karkas semakin rendah persentase karkas (Soeparno, 1994).

Berat karkas juga dipengaruhi oleh umur ternak, jenis kelamin, kecepatan pertumbuhan, metode pemotongan, lingkungan serta berat bagian tubuh/organ non karkas. Ternak yang diberi pakan berenergi tinggi memberikan berat hati, ginjal, kulit dan bulu yang lebih berat dibanding ternak yang diberi pakan berenergi rendah, sedangkan kepala, kaki dan ekor ternak yang laju pertumbuhannya lambat memberikan berat yang lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhannya yang cepat (Murray dan Slezacek, 1978).

Konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat pencernaan, tetapi sebaliknya bagi berat kepala dan kaki tidak mempengaruhi berat kepala, kaki dan kulit pada berat tubuh yang sama (Soeparno, 1994). Komponen sisa karkas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, bangsa ternak adalah pengaruh bangsa yang berhubungan dengan perbedaan genetik tiap bangsa dalam mencapai ukuran dewasa, tiap bangsa terdapat perbedaan kecepatan pertumbuhan dari komponen tubuh. Akibat perbedaan tersebut akan meningkatkan keragaman proporsi tubuh pada berat yang sama. Ransum atau pakan : peningkatan kandungan konsentrat pada ransum akan menurunkan isi perut dan meningkatkan persentasekarkas. Apabila pemberian serat kasar tinggi akan meningkatkan isi perut dan menurunkan persentase karkas (Whytes and Ramsay, 1979).


Sumber Artikel (Klik Here)

Karkas dan Persentase Bobot Karkas

Bobot karkas diperoleh dari hasil penimbangan dari daging bersama tulang kelincihasil pemotongan setelah dipisah dari kepala, kaki, kulit, darah danpengeluaran isi rongga perut (Rahman, 2014).

Menurut pembagiannya, karkas ternak kelinci dapat dipotong sesuai dengan porsinya masing-masing menjadi delapan potongan daging, yaitu : dua potong kaki depan (dengan melepaskan pergelangan kaki dan pangkal paha depan pada skapula), dua potong kaki belakang (dipotong pada sendi antara tulang lumbal terakhir dengan tulang sakral pertama), dua potong bagian dada sampai leher (dipotong pada pangkal leher dan dipisahkan dari pinggang dengan membuat pototngan antara tulang rusuk terakhir), dan dua potong bagian pinggang (dipotong dari tulang rusuk terakhir hingga pada potongan pangkal paha belakang) (Kartadisastra, 1997). Faktor yang mempengaruhi berat karkas yaitu besar tubuh kelinci, jenis kelinci, sistem pemeliharaan, kualitas bibit, macam dan kualitas pakan, kesehatan ternak, perlakuan sebelum pemotongan (Kartadisastra, 1997).

Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dan bobot hidup yang mempunyai faktor penting dalam produksi ternak potong sebenarnya, karena dalam bobot hidup masih terdapat saluran pencernaan dan organ dalam yang beratnya berbeda untuk masing-masing ternak. Berat persentase bobot karkas sangat bergantung pada besar tubuh kelinci, sistem pemeliharaan, kualitas bibit, macam dan kualitas pakan, kesehatan ternak dan perlakuan sebelum dipotong. Persentase karkas yang dihasilkan sangat tergantung pada besar tubuh kelinci dan sebagai patokan, besar karkas kelinci yang baik seharusnya berkisar antara 40%-52% dari berat potongnya. Selain itu persentase karkas juga dipengaruhi oleh umur potong dan jenis kelamin (Soeparno, 1994).




Bobot Potong Ternak

Bobot potong merupakan bobot hidup akhir seekor ternak sebelum dipotong/disembelih. Semakin tinggi bobot sapih pada seekor ternak maka semakin tinggi pula bobot potong. Bobot potong yang tinggi akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula. Semakin tinggi bobot potong maka semakin tinggi persentase bobot karkasnya. Hal ini disebabkan proporsi bagian-bagian tubuh yang menghasilkan daging akan bertambah selaras dengan ukuran bobot tubuh (Muryanto dan Prawirodigdo, 1993).

Ternak yang diberi pakan dengan kualitas yang baik akan menghasilkan bobot badan yang tinggi, sehingga bobot potong yang diperoleh ikut tinggi. Bobot potong yang tinggi akan mempengaruhi bobot karkas dan non karkas. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produksi karkas seekor ternak adalahbangsa, umur, jenis kelamin, laju pertumbuhan, bobot potong dan nutrisi (Berg dan Butterfield, 1976).


Sumber Artikel (Klik Here)

Kulit Buah Markisa

Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman markisa diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom: Plantae (tumbuh-tumbuhan), Divisi: Spermatophyta (tumbuhan berbiji), Subdivisi: agiospermae (berbiji tertutup), Kelas: Dicotyledonae (biji berkeping dua), Ordo: Passiflorae, Famili: Passiforaceae, Genus: Passiflora, Spesies: Passifloraquadrangularis L., P. Edulis (Rukmana, 2003).

Markisa ungu juga disebut siuh atau “markisa asam”. Nama internasional untuk markisa ungu adalah purple passion fruit. Markisa jenis ini banyak diusahakan di Kabupaten Gowa (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Karo (Sumatera Utara). Jenis Markisa ungu mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: batang tanaman halus terkulai, agak berkayu, berumur panjang dan bersifat merambat atau menjalar, tanaman mampu berbuah lebat; pembuahan berlangsung dua kali setahun, buah muda 23 berwarna hijau sedangkan buah tua atau masak berwarna ungu gelap sampai cokelat tua, kulit buah agak tipis, namun cukup kuat sehingga tahan terhadap kerusakan selama pengangkutan, buah berbentuk bulat agak lonjong atau oval, berdiameter antara 5,0 cm – 5,5 cm dan berasa asam dengan aroma wangi yang kuat sehingga cocok dibuat sirup atau jus (Rukmana, 2003).

Dewasa ini pemanfaatan buah markisa masih terbatas pada daging buahnya. Kalau biji masih dapat digunakan sebagai benih, maka kulit buah sama sekali belum dimanfaatkan, bahkan membutuhkan biaya untuk penangananya. Dari buah markisa sari buah sebanyak 40,69% berat buah selebihnya adalah kulit buah sebanyak 44,53% dan biji sebanyak 14,78% (Palupi dan Tungadi, 1988).

Kulit buah markisa ini mempunyai kandungan Protein kasar 7,32% yang hampir sebanding dengan rumput lapangan sehingga cukup potensial untuk dijadikan sebagai pakan ternak substitusi rumput lapangan sumber hijauan, namun terkendala dengan adanya kandungan anti nutrisi tannin (1,85%) dan tingginya kandungan lignin 31,79% (Astuti, 2008).

Tabel 4. Kandungan Kimiawi Kulit Buah Markisa tanpa dan fermentasiPhanerochaete chrysosporium selama 15 hari.
Kandungan Kimiawi
Kulit Buah Markisa
Kulit Buah Markisa Fermentasi
ME (Kkal/kg)
3575
3615
BK (%)
87,23
80,06
PK (%)
8,53
18,56
SK (%)
39,56
34,96
LK (%)
0,6
1,39
Sumber : Laboratorium Pengujian Mutu Pakan Loka Penelitian Kambing Potong (2015)

Tidak ada gangguan penggunaan kulit buah markisa terhadap nafsu makan ternak menunjukkan bahwa bahan makanan ini cukup palatabel. Hal ini mungkin disebabkan aroma kulit buah markisa disukai oleh ternak, sehingga pakan yang diberikan dapat dikonsumsi dalam jumlah besar. Sedangkan pakan yang mempunyai palatabilitas rendah akan dikonsumsi hanya sebatas pemenuhan hidup pokok ternak tersebut. Faktor penting berasal dari pakan yang mempengaruhi konsumsi adalah aroma dari bahan pakan itu, ternak dapat saja menolak bahan pakan yang diberikan tanpa merasakan terlebih dahulu, karena tidak menyukai aromanya (Preston dan Leng, 1987).


Kandungan tannin yang terdapat pada kulit buah markisa diduga berperan menurunkan retensi nitrogen, karena tannin dapat mengikat protein dan membentuk senyawa tannin-protein yang tidak terdegradasi (Herrick, 1980).

Phanerochaete chrysosporium

Jamur P. chrysosporium Burdsall, termasuk dalam kelompok jamur pelapuk putih dan merupakan jamur kelas Basidiomycetes yang juga menyerang holoselulosa, namun pilihan utamanya adalah lignin. Klasifikasi jamur ini sebagai berikut, kelas Basidiomycetes, sub kelas Holobasidiomycetes, ordo Aphylophorales, famili Certiciaceae, genus Phanerochaete dan spesies P. chrysosporium Burdsall (Irawati, 2006). Phanerochaete chrysosporium dapat mendegradasi lignin dan senyawa turunanya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidasi ekstraseluler yang berupa Lignin Peroksidase (LiP) dan Mangan Peroksidase (MnP). Phanerochaete chrysosporium adalah jamur pelapuk putih yang dikenal kemampuannya mendegradasi lignin (Sembiring, 2006).

Laconi (1998), menyebutkan bahwa fermentasi kulit buah kakao dengan Phanerochaete chrysosporium mampu menurunkan kandungan lignin sebesar 18,36%. Melihat kemampuan Phanerochaete chrysosporium dalam menghasilkan enzim lignolitik dan selulotik, kapang ini mampu menurunkan kandungan lignin dengan meningkatkan pertumbuhan kapang dan aktivitas enzim lignolitik.




Fermentasi

Fermentasi merupakan aktivitas mikroorganisme baik aerob maupun anaerob yang mampu mengubah senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa sederhana sehingga keberhasilan fermentasi tergantung pada aktivitas mikroorganisme, sementara setiap mikroorganisme masing-masing memiliki syarat hidup seperti pH tertentu, suhu tertentu dan sebagainya. Produk fermentasi selain menghasilkan bio-massa dapat meningkatkan atau menurunkan komponen kimia tertentu, tergantung kemampuan biokatalisnya (Rosningsih, 2000).

Proses fermentasi mikroorganisme memperoleh sejumlah energi untuk pertumbuhannya dengan jalan merombak bahan yang memberikan zat-zat hara atau mineral bagi mikroorganisme seperti hidrat arang, protein, vitamin dan lain-lain. Proses fermentasi makanan dapat dilakukan melalui kultur media padat atau semi padat dan media cair, sedangkan kultur terendam dilakukan dengan menggunakan media cair dalam bioeraktor atau fermentor (Adams and Moss, 1995).

Melalui fermentasi terjadi pemecahan substrat oleh enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana. Selama proses fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, selain dihasilkan enzim juga dihasilkan ekstraseluler dan protein hasil metabolisme kapang sehingga terjadi peningkatan kadar protein (Winarno, 1983).


Teknologi Pengolahan Pakan Berbentuk Pelet

Peletmerupakan jenis pakan berbentuk padat yang terdiri atas campuran dari berbagai jenis bahan pakan. Beberapa komponen penyusun pelet khusus kelinci ini diantaranya ampas tahu, bekatul, jagung, biji-bijian atau kacang-kacangan dan pakan hijauan. Karena kandungan gizinya yang cukup lengkap, peletdapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi kelinci. Penggunaan pakan pelet juga lebih praktis dan dapat membuat kandang tetap terjaga kebersihannya (Priyatna, 2011).

Pelet adalah ransum yang dibuat dengan menggiling bahan baku yang kemudian dipadatkan menggunakan die dengan bentuk, diameter, panjang dan derajat kekerasan yang berbeda. (Pond et al., 1995). McEllhiney (1994), menyatakan bahwa pelet merupakan hasil proses pengolahan bahan baku ransum secara mekanik yang didukung oleh faktor kadar air, panas dan tekanan.

Kualitas pelet dapat diukur dengan mengetahui kekerasan pelet (hardness) dan daya tahan pelet dipengaruhi oleh penambahan panas yang mempengaruhi sifat fisik dan kimia bahan pakan (Thomas dan Van der Poel, 1997).




Kebutuhan Ternak Kelinci

Untuk memaksimalkan pertumbuhan dan kerja sistem tubuh kelinci, pakan yang diberikan harus memiliki kandungan gizi yang baik dan seimbang. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan cara pemberian pakan yang bervariasi. Pakan yang diberikan untuk kelinci sedikitnya mengandung unsur gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serat kasar, kadar garam, mineral dan air. Pemberian air yang cukup juga dapat membantu memperbaiki sistem metabolisme tubuh kelinci. Karena itu sebaiknya pemberian air minum bagi kelinci jangan sampai telat atau kehabisan (Masanto dan Agus, 2010).

Pakan bagi ternak sangat besar peranannya. Pemberian pakan yang seimbang diharapkan dapat memberikan produksi yang tinggi. Pakan yang diberikan hendaknya memiliki persyaratan kandungan gizi yang lengkap seperti protein, karbohidrat, mineral, vitamin, digemari ternak dan mudah dicerna (Anggorodi, 1990).

Di peternakan kelinci intensif, pakan hijauan diberikan berkisar 60-80%, sisanya konsentrat. Ada juga yang memberikan 60% konsentrat kemudian sisanya hijauan. Pemberian hijauan sekitar 650-750 gram hijauan/ekor/hari. Bila hijauan dipakai, hendaknya hanya diberikan kepada anak-anak kelinci yang telah berumur > 3 bulan serta kelinci dewasa, pada tingkat 1,5% dari bobot badannya (Sarwono, 2009).


Karasteristik dan Potensi Ternak Kelinci

Bangsa kelinci mempunyai klasifikasi taksonomi sebagai berikut : Kingdom : Animalia, Filum : Chordata, Subfilum : Vertebrata, Kelas : Mamalia, Ordo : Lagomorpha, Famili : Leporidae, Subfamili : Leporine, Genus : Lepus, Orictolagus, Spesies : Lepus sp, Orictolagus sp (Susilorini, 2008).

Kelinci merupakan ternak pseudo-ruminant yaitu herbivora yang tidak dapat mencerna serat kasar dengan baik. Menurut Tillman et al., (1991), kelinci mampu mencerna serat kasar dari 10-12% dari berat kering pakan. Kemampuan kelinci mencerna serat kasar dan lemak bertambah setelah kelinci berumur 5-12 minggu. Kelinci memfermentasikan pakan di usus belakangnya. Fermentasi hanya terjadi di caecum (bagian pertama usus besar), yang kurang lebih merupakan 50% dari seluruh kapasitas saluran pencernaannya (Sarwono, 2001).

Kelinci merupakan ternak yang cocok dipelihara di negara berkembang dan mulai memanfaatkan kelinci sebagai sumber daging. Selain itu, kelinci juga memiliki potensi: 1)ukuran tubuh yang kecil, sehingga tidak memerlukan banyak ruang, 2) tidak memerlukan biaya yang besar dalam investasi ternak dan kandang, 3) umur dewasa yang singkat (4-5 bulan), 4) kemampuan berkembang biak yang tinggi, 5) masa penggemukan yang singkat (kurang dari 2 bulan sejak sapih) (El-Raffa, 2004).

Kelinci memiliki tabiat menarik sekali dan juga sangat penting yaitu makan tinjanya (proses ini disebut Coprophagy). Kelinci mengeluarkan 2 macam tinja. Pada siang hari, butir tinja keras dan kering. Akan tetapi pada malam hari dan pagi hari, tinja lembek dan berlendir. Komposisi kotoran lunak yang dikeluarkan sangat berbeda dari kotoran keras. Kotoran lunak diselaputi mukosa, mengandung sedikit bahan kering (31%) tetapi tinggi dalam protein (28,5%) kalau dibandingkan dengan kotoran keras yang mengandung 53% bahan kering dan 9,2% protein. Kotoran lunak juga mengandung banyak vitamin B (Smith dan Mangoewidjojo, 1988). Daging kelinci memiliki kadar gizi yang tinggi yaitu protein sebesar 20,8% dan lemak yang rendah sebesar 10,2%, dibandingkan ternak lain seperti sapi memiliki protein lebih rendah sebesar 16,3% dan lemak tinggi sebesar 22% seperti yang tertera dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kadar gizi daging kelinci dibandingkan ternak lainnya
Jenis Ternak
Protein (%)
Lemak (%)
Kadar Air (%)
Kalori (%)
Kelinci
20,8
10,2
67,9
7,3
Ayam
20,0
11,0
76,6
7,5
Anak sapi
18,8
14,0
66,0
8,4
Kalkun
20,1
28,0
58,3
10,9
Sapi
16,3
22,0
55,0
13,3
Domba
15,7
27,7
55,8
13,1
Babi
11,9
40,0
42,0
18,9
Sumber : Sarwono (2001)

Kelinci mempunyai konversi daging yang cukup tinggi dibandingkan ternak lain yaitu 29%.
Tabel 2. Perbandingan Hasil Daging Beberapa Hewan Ternak
Jenis Ternak
Bobot Induk Dewasa (Kg)
Total bobot karkas/tahun (Kg)
Sapi
500
173
Domba
60
38
Kambing
45
24
Kelinci antensif
4
117
Kelinci hybrid
4
144

Konsumsi daging sangat ditentukan oleh kandungan nutrisinya. Saat ini kalangan tertentu menghendaki daging dengan kandungan kolesterol rendah. Selera konsumen sudah mengarah pada memilih daging yang kurang beresiko terhadap kesehatan konsumen. Kadar kolesterol daging kelinci lebih rendah (39%) dibandingkan daging ternak lain seperti sapi (50%) dan kambing (61%) (Masanto dan Agus, 2010).


Warna bulu badan Kuda di Sumatera Utara


Grey
Warna abu-abu pada kuda dapat ditemukan pada tipe kuda poni sampai dengan kuda berat. Kuda berumur muda memiliki alel abu-abu progresif (G) yang pada saat dilahirkan dapat memiliki warna selain warna abu-abu. Hal tersebut tergantung pada gen warna bulu lain yang menempati lokus pengendali warna bulu. Anak kuda segera setelah dilahirkan, seiring dengan pertambahan umur mulai menunjukkan pencampuran warna bulu putih pada warna abu-abu terutama pada bagian kepala. Proporsi warna abu-abu terhadap warna putih, meningkat seiring dengan pertambahan usia. Warna bulu kuda berubah menjadi abu-abu atau abu-abu dengan berwarna bintik-bintik pada saat dewasa kelamin. Bercak kecil nampak pada dasar kulit yang berwarna hitam karena gen G. Pigmen berwarna gelap ditemukan pada kulit dan mata bahkan ketika warna rambut benar-benar putih. Warna kuda selain abu-abu terjadi karena pengaruh pasangan alel resesif (gg) (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Menurut Eckstrom (2002), alel G dan g menempati lokus G. Kuda grey memiliki warna mulai dari putih sampai dengan abu-abu gelap seiring dengan pertambahan umur.

Bay atau Black
Kuda dengan warna bay adalah kuda yang memiliki surai, ekor dan kaki berwarna hitam. Warna dasar bay terdiri atas tiga macam yaitu bay terang atau light bay yaitu coklat kemerahan atau coklat; bay cerah atau bright bay yaitu warna chesnut dan bay gelap atau dark bay yang cenderung berwarna coklat gelap (Brown dan Sarah, 1994). Menurut Bowling dan Ruvinsky (2000), bay adalah pigmen hitam yang menyebar dan membentuk pola pada surai, ekor dan kaki pada bagian lutut ke bawah. Lokus yang mengatur warna ini adalah agouti. Warna bay atau black dikendalikan lokus agouti (A) yang dapat ditempati dua alel yaitu A untuk sifat bay dan a untuk sifat black. Eckstrom (2002) menyatakan bahwa kuda yang memiliki gen agouti dalam kondisi genotip AA atau Aa (A_) disebut bay, yaitu warna hitam hanya pada bagian ujung tubuh (surai, ekor, kaki dan ujung telinga); sedangkan bila genotipe kuda tersebut aa, maka ekspresi gen agouti tidak tampil. Kuda nampak berwarna hitam pada keseluruhan tubuh. Nozawa et al. (1981) menyatakan pola warna bay (ka-ge) dipengaruhi oleh lokus A dan genotip warna bay adalah A_B_dd.

Chesnut
Chesnut merupakan warna coklat kemerahan pada bulu dan yang juga menjadi warna pada ekor dan surai (Vogel, 1995). Pigmen hitam yang mengendalikan sifat warna black, brown dan bay bersifat dominan terhadap pigmen merah. Chesnut merupakan bagian dari pigmen merah, seperti ditemukan pada kuda berwarna sorrel, palomino dan red duns. Dijelaskan oleh Bowling dan Ruvinsky (2000) menjelaskan bahwa warna chesnut dikendalikan lokus Extension (E) yang dapat ditempati dua alel, yaitu E untuk sifat eumelanin dan e untuk sifat phaeomelanin. Nozawa et al. (1981) menyatakan pola warna chestnut (kuri-ge) memiliki genotipe.

Gen Warna Dilusi
Cream merupakan warna dilusi pada kuda berwarna gelap dan bulu berwarna keemasan seperti pada kuda palomino dan bucksin. Kuda palomino memiliki warna surai dan ekor berwarna putih, sedangkan buckskin memiliki warna hitam pada surai, ekor dan kaki. Contoh lain warna cream adalah cremello dan perlino. Kuda cremello memiliki kulit berwarna merah muda, mata biru dan bulu berwarna gading (ivory). Kuda perlino memiliki warna yang sama kecuali pada bagian surai dan ekor yang berwarna lebih gelap daripada warna bulu badan. Pigmen eumelanin dan phameomelanin pada kuda dengan homozigot dominan CcrCcr akan didilusikan menjadi warna gading (ivory) yang dikenal dengan warna cremello dan perlino. Gen cream ini banyak ditemukan, tapi tidak semua bangsa kuda memiliki gen ini (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Gen cream merupakan sifat dominan yang tidak optimal. Kuda yang memiliki gen CC mempunyai pigmen warna yang terekspresi dengan sempurna. Menurut Eckstrom (2002), kuda yang memiliki gen Ccr merupakan dilusi tunggal yang menghasilkan warna palomino, buckskin atau smoky black. Pigmen merah didilusikan menjadi warna emas dengan warna cream pada surai dan ekor. Kuda yang memiliki gen Ccr Ccr merupakan dilusi ganda (double dilution) yang menghasilkan warna cremello dan perlino. Nozawa et all. (1981) menyatakan kuda yang berwarna palomino atau chestnut-cream (tsuki-ge) memiliki dan dipengaruhi oleh lokus D dan genotipe warna bay adalah _ _bbDd. Seiring dengan perkembangan teknologi biologi molekuler, fenotipe dari gen cream ini adalah warna albino. Gen tirosinase (Tyr) dan khususnya gen pendilusi mata merah muda (pink eye dilution), memiliki alel yang mempengaruhi pigmentasi pada mamalia lain seperti pada tikus dan manusia (Bowling dan Ruvinsky, 2000).

Dun
Kuda yang memiliki gen dun akan menghasilkan pola warna bulu dengan ciri-ciri surai, ekor dan kaki berwarna hitam serta pada punggung ditemukan garis berwarna hitam. Gen D atau gen dun melunturkan pigmen phaeomelanin menjadi pinkish-red, yellowish-red atau yellow, tetapi tidak melunturkan warna pada surai dan ekor. Gen D melunturkan pigmen eumelanin menjadi mouse-grey, sedangkan gen Ccr tidak mempengaruhi eumelanin seperti gen D (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Eckstrom (2002) menyatakan bahwa lokus D ditempati alel D dan d yang dikenal sebagai gen dun atau gen dilusi. Kuda bergenotip DD atau Dd memiliki warna tubuh luntur atau terdilusi sampai berwarna pinkish-red, yellow-red atau coklat muda. Kuda tersebut memiliki ujung-ujung tubuh berwarna gelap termasuk garis-garis pada bagian dorsal, pada punggung dan kaki. Nozawa et al. (1981) menyatakan pola warna dun atau bay-cream (kawara-ge) dipengaruhi oleh lokus D dan genotipe warna bay-cream.

Champagne
Kuda dengan pigmen champagne akan menghasilkan warna yang hampir sama dengan palomino atau buckskin (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Gen dilusi ini bersifat dominan yang jarang terjadi. Gen ini menghasilkan pumpkin-colored freckled skin, amber, greenish atau mata biru dan memberikan bronze-cast pada bulu (Eckstrom, 2002).

Silver (Dapple) Gen silver atau dapple memberikan pengaruh yang mencolok pada warna bulu. Kuda dengan genotip AAE_ (hitam) akan dilunturkan menjadi coklat atau hitam-coklat, dan surai dan ekor menjadi abu-abu silver (silver gray) atau kuning muda (flaxen). Gen ini memiliki pengaruh yang kecil terhadap warna chesnut (phaeomelanin), selain menghasilkan warna perak (kuning muda) pada surai dan ekor. Warna ini disebut juga silver sorrel yang secara visual sulit dibedakan antara warna sorrel dengan silver, karena surai dan ekor berwarna kuning muda sehingga sering dinyatakan sebagai kuda palomino (Bowling dan Ruvinsky, 2000).

Putih dan Gen Bintik
Putih Pola putih pada kuda ditemukan dalam bentuk bintik putih atau satu areal campuran putih. Bintik putih dapat melebar yang meliputi areal campuran bulu putih dan berwarna (roan) atau dapat juga tampil sebagai bintik-bintik putih yang terpisah yang meluas atau dibatasi pada suatu areal. Warna kuda seperti demikian ditemukan pada kuda tobiano, overo, leopard spotting atau kuda berbulu pola totol seperti macan (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Nozawa et al. (1981) menyatakan pola warna spotted (buchi) dipengaruhi oleh lokus S dan genotip warna spotted adalah putih.

Kuda berwarna putih tidak memiliki pigmen warna di kulit dan bulu tetapi memiliki pigmen warna coklat tua pada mata. Kuda berwarna putih memiliki genotipe heterozigot, sedangkan dalam kondisi homozigot kuda tersebut letal (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Kuda putih bermata hitam (dark eyed) belum tentu berasal dari tetua yang berwarna bulu gelap (bukan berwarna putih). Anak kuda yang baru dilahirkan berwarna putih dan memiliki bulu berpigmen di telinga, surai dan punggung. Pigmen ini mulai menghilang seiring dengan pertambahan umur. Kuda putih yang berasal dari tetua berwarna gelap mewariskan warna putih sebagai sifat dominan (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Menurut Brown dan Sarah (1994), kuda putih adalah kuda yang memiliki kulit berwarna merah muda dan bulu berwarna light cream serta mata yang berwarna kebiruan (bluish). Nozawa et all. (1981) menyatakan pola warna white (same-ge) dipengaruhi oleh lokus D dan genotipe warna white adalah DD.

Roan
Bowling dan Ruvinsky (2000) menyatakan bahwa kuda roan memiliki warna campuran antara bintik putih dan warna lain. Fenotipe kuda roan sama dengan kuda abu-abu muda, tetapi warna bulu roan tidak semakin memutih seiring dengan pertambahan umur seperti halnya pada kuda abu-abu. Kuda roan memiliki campuran warna 50% warna putih dan warna lain, tetapi kepala dan kaki memiliki warna polos (hitam atau chesnut). Menurut Eckstrom (2002), kuda roan memiliki pola percampuran warna putih dengan warna dasar, sedangkan menurut Brown dan Sarah (1994), kuda roan memiliki percampuran warna putih dengan warna lain sehingga memperlihatkan warna seperti strawberry roan (chesnut), red roan (bay) atau blue roan. Nozawa et al. (1981) menyatakan pola warna roan (kasu-ge) dipengaruhi oleh lokus R dan genotipe warna roan adalah Rr. Kuda dengan genotipe RR akan mengalami lethal.

Tobiano Kuda
Tobiano adalah pola dominan yang mewariskan warna putih sebagai pola. Simbol alelik atau genotipe kuda tobiano adalah TOTO dengan alel resesif to. Sifat tobiano memiliki dua fitur genetik. Bercak sekunder ditemukan pada daerah yang paling putih, yaitu di daerah paling putih pada kondisi homozigot dan bercak sekunder yang juga dalam kondisi homozigot disebut dengan spot tinta peternak atau cakar cetakan. Karakteristik khas kondisi homozigot pada kuda tobiano adalah kuda ini memiliki kelompok warna bintik-bintik kecil pada warna bulu putih tubuh kuda (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Kuda tobiano memiliki pola pinto yaitu warna putih berorientasi vertikal. Warna putih meluas di daerah punggung, kaki ke bawah, pada muka, sedangkan ekor biasanya berwarna hitam (Eckstrom, 2002).

Overo
Kuda overo adalah kuda yang memiliki pola warna putih yang bukan tobiano atau leopard spotting. Kuda overo adalah kuda yang terlahir dengan tanda putih yang meluas pada bagian perut terutama pada wajah. Bercak putih asimetris kuda overo ditemukan pada sisi leher dan barel. Kuda overo juga memiliki kaki berwarna putih. Kuda overo memiliki genotipe heterozigot (Bowling dan Ruvinsky, 2000). Eckstrom (2002) menyatakan bahwa kuda overo memiliki pola kuda pinto yang membentuk bingkai kokoh di sekitar bercak putih horisontal dengan tepi bergerigi dengan warna polos melintasi bagian belakang dan kaki. Wajah kuda overo kebanyakan berwarna putih. Kuda overo yang homozigot dominan akan mati karena memiliki usus besar yang tidak lengkap sehingga kuda ini tidak mampu melakukan defekasi sehingga berakhir dengan kematian segera setelah dilahirkan.


Tanda Wajah Kuda

Kuda memiliki warna yang bermacam-macam dan memiliki tanda yang istimewa, biasanya kuda dibedakan dari warna sebelum membedakan bangsa atau jenis kelamin.Kuda yang memiliki warna yang sama, dapat dibedakan dengan yang lain dengan tanda putih yang membentuk pola yang berbeda, dapat saja berbentuk warna putih memanjang (stripe) pada dahi, agak lebar putihnya (blaze), hampir meluas menutup hidung dan sekitar mata (white face) atau hanya berbentuk semacam bintang pada dahi (star) dan pada moncong diantara kedua lubang hidung (snip).

Secara genetik maka warna tubuh kuda mengikuti perilaku gen bagi sifat kualitatif dimana merah (chestnut) resesif terhadap hitam (black) yang dikontrol oleh gen warna merah, yang berpasangan dengan gen lain untuk membentuk variasi lain apakah totol atau abu-abu.

Warna dasar dari kuda adalah chestnut, bay, brown dan hitam, serta dimodifikasi karena ada gen lain yang menontrol sehingga muncul warna-warna: black, darkbay, lightbay, liverchestnut, chesnut, dun, straberry roan, palomin, pie bald, skewbald, odd-colourd, blue roan, dapple grey, fleabitten grey, grey dan albino.

Warna putih pada kaki akan dikatagorikan sebagai berikut: warna putih dari kuku sampai mendekati lutut (long sock), lebih rendah dari lutut (short sock), hanya di daerah sendi kaki (white pastern), lebih rendah lagi (short white pastern) dan hanya sestrip diatas kuku (coronet).




Back To Top