Kualitas Normal Semen Sapi

Posted by

Dalam menentukan kualitas semen sapi, ada beberapa parameter yang dapat dilihat yaitu : volume, warna, kekentalan/konsistensi, pH, gerakan massa, motilitas, dan konsentrasi.

a) Warna
Semen sapi mempunyai warna yang berbeda-beda. Dari warna semen ini dapat diduga bahwa semen yang dihasilkan oleh pejantan bagus atau tidak. Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, Souhoka dkk. (2009), menyatakan bahwa semen segar yang memiliki jumlah spermatozoa banyak akan mengakibatkan semen lebih kental dan warna lebih pekat. Nursyam (2007) dan Feradis (2010) menyatakankan bahwa semen sapi normal berwarna putih susu atau krem keputihan dan keruh, derajat kekeruhannya tergantung pada konsentrasi spermatozoa. Arifiantini, dkk. (2005) juga menambahkan bahwa warna semen normal adalah kuning krem (yellowiss cream). Sedangkan menurut Toelihere (1979) bahwa semen yang berwarna gelap sampai merah mudah menandakan adanya darah segar dalam jumlah yang berbeda dan berasal dari saluran kelamin urethra atau penis. Warna kecoklat-coklatan menandakan adanya darah yang telah mengalami dekomposisi. Suatu warna coklat mudah atau warna kehijau-hijauan menunjukkan kemungkinan kontaminasi dengan faeces.

b) Derajat keasaman (pH)
Metabolisme spermatozoa dalam keadaan anaerobik menghasilkan asam laktat yang makin tertimbun dan meninggikan derajat keasaman atau menurunkan pH larutan tersebut. Derajat keasaman sangat mempengaruhi daya tahan hidupspermatozoa. Pada sapi dan dornba, pH semen adalah netral sekitar 6,8 (Toelihere. 1993). Ditambahkan oleh Butar (2009) bahwa semen segar mempunyai pH antara 6,4-7,8. Nursyam (2007) bahwa pH semen yang berkualitas baik adalah 6,8-6,7. Hafez dan Hafez (2000) bahwa pH semen Sapi Simmental berada pada rentang 5,9 – 7,3, ditambah Susilawati (2000), bahwa kandungan asam sitrat yang bisa mempengaruhi pada masing-masing semen pejantan dapat berubah tergantung pada kondisi pejantan tersebut.

c) Konsistensi
Pemeriksaan konsistensi semen segar mempunyai persentase yang bervariasi antar bangsa. Hal ini disebabkan oleh perbedaan rata-rata konsentrasi dan volume semen segar yang berbeda. Menurut Feradis (2010) bahwa Konsistensi semen sapi dikatakan kental apabila mempunyai konsentrasi 1.000 juta sampai 2.000 juta sel spermatozoa per ml. Butar (2009) menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka konsistensi semen akan semakin pekat.

d) Motilitas massa
Spermatozoa umumnya mempunyai kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke satu arah, sehingga membentuk suatu gelombang-gelombang yang tebal atau tipis, bergerak cepat atau lambat (Ihsan, 1992). Rendahnya motilitas massa semen ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi sapi yang kurang optimal serta rendahnya daya adaptasi sapi tersebut terhadap iklim dan cuaca di Indonesia. Sarastina dkk. (2006) menyatakan bahwa sapi lokal akan memiliki daya adaptasi lebih baik dibandingkan dengan bangsa sapi impor.

e) Volume
Butar (2009) menyatakan bahwa volume semen sapi jantan berkisar 2-10 ml. Perbedaan volume semen segar bisa disebabkan ukuran testis antar bangsa yang berbeda (Feradis, 2010). Mawarti (2007) menyatakan bahwa rata-rata volume semen dan konsentrasi spermatozoa antar bangsa sapi tidak berbeda nyata. Perbedaan volume tersebut diduga karena ukuran testis yang berbeda-beda. Hasil yang layak pada semen sapi volumenya berkisar 1–5 ml (Anonim, 2010).

f) Motilitas individu
Motilitas spermatozoa mempunyai peranan penting dalam sistem reproduksi karena pada dasarnya spermatozoa bergerak menghampiri ovum. Spermatozoa yang mempunyai motilitas yang kurang progresif dimungkinkan tidak dapat sampai ke ovum. Menurut Toelihere (1993) sapi yang normal (fertile) mempunyai motilitas individu 40 - 75% spermatozoa yang aktif progresif. Hasil penelitian Arifiantini, dkk., (2005) yang menyatakan bahwa persentase motilitas individu semen sapi Simental yaitu 71,36 %.

g) Konsentrasi

Sudjana (2007) menyatakan bahwa pemeriksaan dan penghitungan konsentrasi dengan menggunakan spectrophotometer, konsentrasi minimal semen sapi Simental adalah 1.000x106 spermatozoa per ml. Perbedaan konsentrasi spermatozoa antar pejantan diduga disebabkan karena kualitas genetik pada masing-masing pejantan yang berbeda (Situmorang, 2002). Sumeidiana dkk. (2007) menyatakan bahwa semen sapi Simental mempunyai konsentrasi lebih tinggi dibandingkan sapi Limousin dan Brahman. Konsentrasi spermatozoa yang cenderung tinggi pada Bangsa Simental dipengaruhi oleh genetis individu untuk menghasilkan spermatozoa berkonsentrasi tinggi dengan volume yang rendah

loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 11:12

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...